Hasil Pengamatan Praktikum Penetasan Artemia salina

Pengamatan/jam ke-

Jumlah

HE

(n/gr)

HR

(%)

Embrio

umbrella

Nauplii

1

23.30 wib

62

60

20

40

14,08

2

00.30 wib

37

41

26

52

25

3

01.30 wib

22

15

27

54

42

4

02.30

20

12

35

70

52,24

5

03.30 wib

11

10

35

70

62,5

6

04.30 wib

5

8

35

70

72,92

7

05.30 wib

5

6

37

74

78,72

8

06.30 wib

5

3

38

76

82,61

9

07.30 wib

5

2

48

96

87,27

10

08.30 wib

5

0

50

100

91

11

09.30 wib

0

4

50

100

92,6

12

10.30 wib

0

2

51

102

94,44

13

11.30 wib

0

2

53

106

96,36

14

12.30 wib

0

1

53

106

98,15

15

13.30 wib

0

1

64

128

98,46

16

14.30 wib

0

0

95

190

100

17

15.30 wib

0

0

119

238

100

18

16.30 wib

0

0

180

360

100

Hasil Pengamatan Praktikum Penetasan Artemia salina

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa cyste artemia mulai menetas pada jam ke-12 setelah penebaran cyste di media sebesar 14%. Selanjutnya mengalami peningkatan jumlah cyste artemia yang menetas hingga pada akhir pengamatan sebesar 100%.

Pembahasan

Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Menurut Gusrina (2008) menyatakan bahwa proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yaitu proses penyerapan air, pemecahan dinding cyste oleh embrio, embrio terlihat jelas masih diselimuti membran, menetas dimana nauplius berenang bebas yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam. Akan tetapi hal ini berbeda dengan hasil praktikum kami dimana cyste artemia mulai menetas sekitar 12 jam setelah penebaran cyste pada media.

Waktu penetasan cyste artemia dipengaruhi oleh faktor kualitas air, yaitu : kadar salinitas pada media penetasan, kepadatan cyste yang ditetaskan, intensitas cahaya dan aerasi.

Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29º C. Pada suhu dibawah 25º C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33º C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar salinitas optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.

Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.

Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukan dalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambang dan berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetap dimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum tutup dibuka atau disipon, ujing selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.


Iklan

Plankton dan Tumbuhan Air

KELIMPAHAN PLANKTON dan TUMBUHAN AIR

DI PERAIRAN LAUT PULAU TEGAL

( Laporan Praktikum Plankton dan Tumbuhan Air )

 

 

Oleh:

Neni Putriani

 

 

  1. PENDAHULUAN

     

A. Latar Belakang

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan
plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

 

Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak.

 

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne, 1983).

 

Pulau tegal merupakan salah satu pulau yang ada di pesisir lampung, pulau ini telah dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan lokasi budidaya keramba jaring apung (KJA). Pulau tegal berpotensi menjadi pulau yang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat tinggi (eutrofik) disebabkan oleh jumlah KJA yang meningkat setiap tahun, hal ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas perairan. Salah satu diantaranya adalah dapat meningkatkan unsur hara (nitrogen dan fosfor) yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan dan sisa metabolisme ikan. Muatan unsur hara yang berlebihan dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan cepat dan berlimpah sehingga dapat mempengaruhi fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton yang ada di perairan ini.

 

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dan mengetahui teknik pengambilan sampel plankton dari suatu perairan serta mengidentifikasi jenis dari plankton dan tumbuhan air di perairan pulau tegal

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Plankton

Menurut Gusrina dalam BSE menyatakan plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air. Plankton didalam perairan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu phytoplankton dan zooplankton. Phytoplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad nabati sedangkan zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani. Sedangkan bentos adalah organisme air yang hidup didasar perairan .Jenis-jenis phytoplankton dan zooplankton yang dapat dibudidayakan dapat dikelompokkan berdasarkan habitatnya adalah plankton air tawar dan plankton air laut. Plankton air tawar hidup diperairan tawar sedangkanplankton air laut hidup diperairan laut.

 

Dalam siklus hidupnya phytoplankton melakukan proses fotosintesa dan berukuran kecil yaitu terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuk phytoplankton antara lain: oval, bulat dan seperti benang. Phytoplankton yang hidup di dalam perairan ini akan memberikan warna yang khas pada perairan tersebut seperti berwarna hijau, biru atau coklat. Hal ini dikarenakan didalam tubuh phytoplankton terdapat zat warna atau pigmen. Zat warna atau pigmen ini dapat diklasifikasikan yaitu :

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

 

Berdasarkan zat warna yang dimiliki oleh alga ini, maka alga dapat dikelompokkan menjadi :

1. Alga Hijau (Kelas Chlorophyceae)

2. Alga Coklat (Kelas Bacillariophyceae/kelas Phaephyceae)

3. Alga Keemasan (Kelas Chrysophyceae)

4. Alga Merah (Kelas Rhodophyceae)

5. Alga Hijau Kebiruan (Kelas Cyanophyceae)

 

 

Selain itu menurut Nybakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang memiliki gerakan dan daya renang yang cukup kuat untuk melawan arus laut.

Plankton adalah suatu organisme yang terpenting dalam ekosistem laut, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988)

Menurut ukurannya, plankton dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu makroplankton (lebih besar dari 1 mm), mikroplankton (0,06–1 mm) dan nanoplankton (kurang dari 0,06 mm) meliputi berbagai jenis fitoplankton. Diperkirakan 70 % dari semua fitoplankton di laut terdiri dari nanoplankton dan inilah yang memungkinkan terdapatnya zooplankton sebagai konsumer primer (Sachlan, 1972).

Berdasarkan daur hidupnya, plankton terbagi dalam dua golongan yaitu holoplankton yang merupakan organisme akuatik dimana seluruh hidupnya bersifat sebagai plankton, golongan kedua yaitu meroplankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat sebagai plankton (Bougis, 1976; Nybakken, 1992).


Berdasarkan keadaan biologisnya, Newel (1963) menggolongkan plankton sebagai berikut : (a) Fitoplankton yang merupakan tumbuhan renik, (b) Zooplankton yang merupakan hewan-hewan yang umumnya renik.


Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Zooplankton memiliki ukuran yang lebih besar dari fitoplankton (Nontji, 1987).


Effendi (1997) membagi ukuran zooplankton dengan ketentuan khusus, yaitu makrozooplankton yang berukuran lebih besar dari 2 cm, dan mesozooplankton yang berukuran 200 – 20.000 m. Larva ikan maupun ikan-ikan muda yang bersifat planktonik disebut ichtyoplankton umumnya berukuran besar. Umumnya zooplankton mempunyai alat gerak seperti flagel, cilia atau kaki renang, namun tidak dapat melawan pergerakan air (Raymont, 1963).

Komposisi jenis zooplankton sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda. Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera, serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992).

Romimohtarto dan Juwana (1998) menyatakan bahwa Crustacea merupakan jenis zooplankton yang terpenting bagi ikan-ikan, baik di perairan tawar maupun di perairan laut. Diantara anggota filum Arthropoda, hanya Crustacea yang dapat hidup sebagai plankton dalam perairan. Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Silvania (1990) mengemukakan bahwa di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Hal ini juga didukung oleh Arinardi (1977) yang menyatakan bahwa kepadatan zooplankton sangat tergantung pada kepadatan fitoplankton, karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, dengan demikian kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.

Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya “The Theory of Differential Growth Rate” (Teori Perbedaan Kecepatan Tumbuh) yang dikemukakan oleh Steeman dan Nielsen (1973) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu.

 

  1. Tumbuhan air

Padang Lamun adalah hamparan vegetasi berbentuk rumput yang umumnya terdapat pada laut dangkal dekat pantai. Fungsinya adalah sebagai habitat ikan-ikan kecil yang setelah besar ikan tersebut berpindah ke tengah laut yang lebih dalam. Ekosistem Padang Lamun memberikan sumber makanan yang produktif bagi ikan-ikan di laut. Karena ekosistem padang lamun berada dekat dengan pantai, tentunya tekanan utama terhadap ekosistem ini datang dari segala hasil kegiatan manusia di pantai. Eutrofikasi dengan nutrien nitrogen dan fosfat dapat mengakibatkan peningkatan pertumbuhan algae dan tanaman lamun, tetapi tidak mengganggu keseimbangan organisme yang ada. Eutrofikasi yang bersumber dari unsur hara di darat, seperti air kotor, minyak, detergen, pupuk dan limbah tambak dapat menimbulkan peledakan epifita lamun dan mengurangi tembusnya cahaya ke tumbuhan tersebut. Hilangnya tumbuhan lamun mengarah kepada erosi lokal, meningkatkan gerakan ombak di dasar laut dan kekeruhan air laut yang berdampak pada kekurangan cahaya untuk vegetasi lamun.

Dua masalah utama dalam pengelolaan padang lamun di Indonesia adalah masalah distribusi lahan pertumbuhan vegetasi dan tingkat eksploitasi sumber daya padang lamun. Masalah distribusi, yaitu hamparan ekosistem padang lamun tidak selalu terdapat di sembarang tempat di laut dangkal, tetapi hanya bisa tumbuh di tempat-tempat tertentu sehingga sulit dilakukan pengelolaannya. Eksploitasi padang lamun biasanya dilakukan oleh masyarakat kecil dan tersebar di mana-mana sehingga sulit dilakukan pengelolaan secara baik untuk kepentingan ekosistem laut secara keseluruhan.

 

  1. Faktor Pembatas

Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya.

 

Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.

Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.

Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu. Tanah terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.

Tumbuhan perdu yang mempunyai daun lebar lebih tahan terhadap keterbatasan sinar matahari, sedangkan tumbuhan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari. Lebar atau kecil daun berpengaruh langsung terhadap kemampuan tumbuhan untuk melakukan kegiatan fotosintesis dan penguapan (transpirasi). Semakin lebar daun semakin tinggi kemampuan fotosintesis dan semakin besar pula penguapan.

 

Faktor cahaya, temperatur, dan kadar garam dalam ekosistem perairan akan berinteraksi bersama menjadi faktor pembatas utama terhadap keberadaan organisme. Hal ini dapat dilihat jelas pada perbedaan jenis organisme yang biasa didapati di dekat muara sungai dengan yang terdapat di lepas pantai atau laut dalam.

 

  1. Metode Pelaksanaan

 

  1. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 29-30 Mei 2010. Bertempat di Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung.

 

  1. Lokasi Praktikum

Pengambilan sample plankton dan tumbuhan air ini dilakukan di perairan laut, tepatnya pulau tegal, dengan 4 titik pengambilan, yaitu di wilayah yang jauh dari aktivitas, dekat dengan aktivitas dan wilayah antara keduanya.

 

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, yaitu planktonet, lugol iodine, botol film, ember volume 5 liter, Sedgwick-rafter cell, tissue, pipet tetes, dan mikroskop binokuler.

 

  1. Pengambilan Sampel

C.1 Plankton

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample plankton, yaitu:

  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Menentukan letak pengambilan sampel
  3. Air laut disaring sebanyak 100 liter dengan menggunakan plankton net ukuran 25 μm
  4. Hasil penyaringan diwadahi menggunakan botol film dengan volume 10 ml
  5. Kemudian diawetkan dengan menggunakan lugol 5%
  6. Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Pertanian, dengan berpedoman pada buku identifikasi Davis (1955), Needham (1963), dan Sachlan

 

C.2 Tumbuhan Air

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample tumbuhan air, yaitu:

  1. Ditentukan letak pengambilan sampe, dengan 4 titik pengambilan sample
  2. Buat transek dengan ukuran 5X5M sebanyak 3 petak dalam satu lokasi
  3. Amati, hitung dan ambil sample tumbuhan air yang ada di wilayah transek tersebut
  4. Identifikasi jenis tumbuhan air tersebut

 

  1. Analisis Data

Adapun analisis data dalam praktikum plankton dan tumbuhan air, menggunakan rumus, sbb:

D.1 Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’)

s

H’ = – S (ni/N) ln (ni/N)

i=1

 

Kisaran total Indeks Keanekaragaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut (modifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981)):

H’ < 2,3026     : keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah

2,3026<H’> 6,9078: keanekaragaman dan kestabilan komunitas sedang

H’ > 6,9078    : keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

 

D.2 Indeks keseragaman (E)

 

E = H’/Hmax

 

Indeks Keseragaman berkisar antara 0-1. Apabila nilai mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai E mendekati 0 apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan.

D.3 Indeks dominansi (D)

 

D = ni2
X 100%

         N2

Keterangan :

D = Indeks Dominansi

ni = jumlah individu jenis ke-i

N = Jumlah total individu

 

D mendekati 0 tidak ada jenis yang mendominansi dan D mendekati 1 terdapat jenis yang mendominansi.

 

D.4 Kelimpahan Plankton dan Tumbuhan air

Pengukuran kelimpahan plankton menggunakan rumus Sachlan dan Effendi (1972), sebagai berikut:

A C 1000

F = —— x ——- x ——- x N

B D E

 

Keterangan :

F = Jumlah individu per liter

A = Luas cover glass

B = Luas lapang pandang

C = Volume sampel yang disaring

D = Volume sampel yang diambil

E = Volume sampel yang diteliti

N = Jumlah organisme yang didapat

 

 

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Metode sampling plankton dalam praktikum ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton dan metode kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat.

 

A. Plankton

Tabel.1 Data hasil pengamatan jumlah dan jenis plankton

No. 

Jenis Plankton 

Jumlah Plankton (sel/ml) 

Sampel 1 

Sampel 2 

Sampel 3 

Sampel 4 

1 

Aequorea vitrina 

1 

0 

0 

0 

2 

Amphora 

2 

0 

0 

0 

3 

Basilaria paradoxa 

7 

0 

0 

0 

4 

Brachionus sp

1 

     

5 

C.Granii 

4 

0 

0 

0 

6 

C.Radiatus 

3 

1 

0 

89 

7 

Calanus 

0 

0 

0 

5 

8 

Eutima gracilis 

0 

6 

0 

0 

9 

Fragillaria oceanika 

0 

2 

0 

0 

10 

Gyrodinium glaucum 

3 

15 

0 

0 

11 

Halosphaera viridis 

3 

26 

0 

0 

12 

Leptocylindricus danicus 

4 

0 

0 

0 

13 

Navicula 

4 

3 

0 

0 

14

Nitzschia closterium 

6 

0 

0 

5 

15 

Oscillatoria 

3 

0 

0 

0 

16 

Pleurosigma.Micans 

0 

0 

0 

6 

17 

Phalocroma sp 

1 

1 

0 

0 

18 

Pinnularia 

3 

0 

5 

0 

19 

Podon leucarii 

1 

0 

0 

0 

20 

Rhizosolenia 

0 

13 

2 

0 

21 

Rhizosolenia seligera 

22 

0 

5 

7 

22 

Skeletonema 

3 

0 

0 

0 

23 

Tintinopsis sp

3 

3 

3 

0 

24 

Thalassiothrix nitzschloides 

1 

0 

0 

0 

Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa lebih banyak fitoplankton yang teramati yaitu 16 genus daripada zooplankton 8 genus. Jenis fitoplankton yang teramati dari Bacillariophyta adalah Chaetocheros sp., Thalassiontrix sp., Nitzschia sp., Pleurosigma sp., Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp.., Thalossionema sp., dan Navicula sp. Dari Cyanophyta adalah Oscillatoria sp. Untuk Chlorophyta terdapat 1 genus yaitu Spirogyra sp.

Keberadaan Bacillariophyta dari hasil pengamatan cukup banyak. Hal ini diduga disebabkan oleh salinitas yang relatif tinggi di perairan pulau tegal, yaitu berkisar antara 29-31‰. Menurut Sachlan (1972), fitoplankton yang hidup pada kisaran salinitas diatas 20‰ sebagian besar merupakan plankton dari kelompok Bacillariophyta. Keadaan demikian menurut Riley (1967), diduga berkaitan dengan kondisi perairan yang mendukung terutama keadaan salinitas dan ketersediaan unsur hara. Yudilasmono (1996) dalam Arsil (1999), menyatakan bahwa Bacillariophyta atau Bacillariophyceae lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan merupakan kelompok fitoplankton yang disenangi oleh ikan dan larva udang.

 

Zooplankton yang teramati dari Protozoa 4 genus adalah Tintinopsis sp.,Prorosentrum sp., Triseratium sp. dan Ceratium sp. Rotifera ada 1 genus Brachionus sp., sedangkan Crustacea ada 3 genus yaitu Acartia sp., Daphnia sp. dan Calanus sp.

Dari hasil penghitungan Indeks Keanekaragaman (Diversity Index) terhadap jenis-jenis plankton yang teramati di tiap stasiun penelitian secara umum berada dibawah kisaran nilai indeks keanekaragaman H’ < 2,3026 menurut klasifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981), yaitu pada kisaran nilai 0,8824-2,2889. Kisaran ini menunjukkan keanekaragaman di perairan pulau tegal kecil dan kestabilan komunitas rendah.

Dari hasil penghitungan Indeks Keseragaman (Equitability Index) dengan skor 0 sampai 1 didapatkan bahwa pada 4 kali pengambilan contoh sampel plankton didapatkan bahwa nilai indeks antara 0,818 sampai dengan 0,968. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai indeks (mendekati nilai 1), semakin besar pula keseragaman populasi yang berarti penyebaran jumlah individu sama dan tidak ada kecenderungan terjadi dominansi oleh satu spesies.

Nilai indeks dominansi di perairan pulau tegal berkisar antara 0,1045-0,4811. Nilai ini menunjukkan bahwa relatif tidak ada jenis plankton yang mendominansi, dengan demikian tidak ada jenis-jenis yang mengendalikan perairan ini. Hilangnya jenis-jenis yang dominan, menurut Odum (1971), akan menimbulkan perubahan-perubahan penting tidak hanya pada komunitas biotiknya sendiri tetapi juga dalam lingkungan fisiknya.

Indeks Keanekaragaman (Diversity Index), Indeks Keseragaman (Equitability Index) dan indeks dominansi merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kestabilan komunitas biota perairan terutama dalam hubungannya dengan kondisi suatu perairan. Dengan mengacu pada nilai indeks, terlihat bahwa perairan ini cenderung tidak stabil karena relatif tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi dan rendahnya keanekaragaman. Dimana menurut Clark (1974) dan Krebs (1972) dalam Arsil (1999), tingginya keanekaragaman menunjukkan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Ekosistem yang tidak seimbang akan mempengaruhi pakan alami sehingga jika pakan alami tidak tersedia maka kelangsungan hidup larva organisme akan terancam.

  1. Tumbuhan Air

    B.1 Lokasi 1

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

25 % 

5 % 

2 % 

2. 

Padina 

10 % 

10 % 

2 % 

    B.2 Lokasi 2

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

80 % 

10 % 

5 % 

2. 

Halimeda 

20 % 

90 % 

30 % 

 

    B.3Lokasi 3

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

90 % 

100 % 

30 % 

2. 

Halimeda 

5 % 

0 % 

10 % 

 

    B.4 Lokasi 4

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

5 % 

0 % 

0 % 

 

Pada lokasi pengambilan sampel 1 merupakan lokasi yang jauh dari aktivitas, didapatkan tumbuhan air dengan variasi nilai keragaman 25%, 5% ,5 %. Hal ini berarti indeks keragamannya tergolong sedang, Pada perhitungan indeks keseragaman hasil yang didapat yaitu 0,866 artinya keseragamannya tinggi. Selanjutnya Indeks dominasi yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan angka 0,214. hal ini berarti indeks dominasinya tergolong rendah karena nilai tersebut lebih mendekati nol.

Sedangkan pada lokasi 2 dan 3 didapatkan indeks keseragaman yang tinggi dan indeks keanekaragaman yang rendah. Akan tetapi kondisi tersebut berbeda pada lokasi 4, dimana indeks keseragaman dan keanekaragaman yang rendah sekali. Hal tersebut kemungkinan erat kaitannya dengan banyaknya aktifitas di lokasi tersebut yang mengakibatkan tingkat pencemaran tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan air yang berada dilokasi tersebut.

  1. Kesimpulan

     

Perairan pada pulau tegal memiliki 24 jenis plankton, dari hasil analisis indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menunjukkan bahwa perairan ini memiliki keanekaragaman yang rendah dan tidak ada spesies plankton yang mendominasi, sehingga perairan ini cenderung tidak stabil. Ketidakstabilan perairan erat kaitannya dengan ketersediaan pakan alami bagi larva organisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan dari Marine Biology : An Ecological Approach. Alih Bahasa : M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen dan M. Hutomo. Gramedia, Jakarta. 459 p

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p

Umar, C. 2003. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton dalam Kaitannya dengan Kandungan Unsur Hara (Nitrogen dan Fosfor) dari Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Waduk Ir. H. Juanda Jatiluhur Jawa Barat. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 94 p

Yuliana dan Tamrin. 2005. Fluktuasi dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku Utara. 11 p (belum dipublikasikan).

 


 

KELIMPAHAN PLANKTON dan TUMBUHAN AIR

DI PERAIRAN LAUT PULAU TEGAL

( Laporan Praktikum Plankton dan Tumbuhan Air )

 

 

Oleh:

Neni Putriani

 

 

  1. PENDAHULUAN

     

A. Latar Belakang

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan
plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

 

Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak.

 

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne, 1983).

 

Pulau tegal merupakan salah satu pulau yang ada di pesisir lampung, pulau ini telah dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan lokasi budidaya keramba jaring apung (KJA). Pulau tegal berpotensi menjadi pulau yang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat tinggi (eutrofik) disebabkan oleh jumlah KJA yang meningkat setiap tahun, hal ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas perairan. Salah satu diantaranya adalah dapat meningkatkan unsur hara (nitrogen dan fosfor) yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan dan sisa metabolisme ikan. Muatan unsur hara yang berlebihan dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan cepat dan berlimpah sehingga dapat mempengaruhi fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton yang ada di perairan ini.

 

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dan mengetahui teknik pengambilan sampel plankton dari suatu perairan serta mengidentifikasi jenis dari plankton dan tumbuhan air di perairan pulau tegal

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Plankton

Menurut Gusrina dalam BSE menyatakan plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air. Plankton didalam perairan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu phytoplankton dan zooplankton. Phytoplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad nabati sedangkan zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani. Sedangkan bentos adalah organisme air yang hidup didasar perairan .Jenis-jenis phytoplankton dan zooplankton yang dapat dibudidayakan dapat dikelompokkan berdasarkan habitatnya adalah plankton air tawar dan plankton air laut. Plankton air tawar hidup diperairan tawar sedangkanplankton air laut hidup diperairan laut.

 

Dalam siklus hidupnya phytoplankton melakukan proses fotosintesa dan berukuran kecil yaitu terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuk phytoplankton antara lain: oval, bulat dan seperti benang. Phytoplankton yang hidup di dalam perairan ini akan memberikan warna yang khas pada perairan tersebut seperti berwarna hijau, biru atau coklat. Hal ini dikarenakan didalam tubuh phytoplankton terdapat zat warna atau pigmen. Zat warna atau pigmen ini dapat diklasifikasikan yaitu :

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

 

Berdasarkan zat warna yang dimiliki oleh alga ini, maka alga dapat dikelompokkan menjadi :

1. Alga Hijau (Kelas Chlorophyceae)

2. Alga Coklat (Kelas Bacillariophyceae/kelas Phaephyceae)

3. Alga Keemasan (Kelas Chrysophyceae)

4. Alga Merah (Kelas Rhodophyceae)

5. Alga Hijau Kebiruan (Kelas Cyanophyceae)

 

 

Selain itu menurut Nybakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang memiliki gerakan dan daya renang yang cukup kuat untuk melawan arus laut.

Plankton adalah suatu organisme yang terpenting dalam ekosistem laut, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988)

Menurut ukurannya, plankton dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu makroplankton (lebih besar dari 1 mm), mikroplankton (0,06–1 mm) dan nanoplankton (kurang dari 0,06 mm) meliputi berbagai jenis fitoplankton. Diperkirakan 70 % dari semua fitoplankton di laut terdiri dari nanoplankton dan inilah yang memungkinkan terdapatnya zooplankton sebagai konsumer primer (Sachlan, 1972).

Berdasarkan daur hidupnya, plankton terbagi dalam dua golongan yaitu holoplankton yang merupakan organisme akuatik dimana seluruh hidupnya bersifat sebagai plankton, golongan kedua yaitu meroplankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat sebagai plankton (Bougis, 1976; Nybakken, 1992).


Berdasarkan keadaan biologisnya, Newel (1963) menggolongkan plankton sebagai berikut : (a) Fitoplankton yang merupakan tumbuhan renik, (b) Zooplankton yang merupakan hewan-hewan yang umumnya renik.


Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Zooplankton memiliki ukuran yang lebih besar dari fitoplankton (Nontji, 1987).


Effendi (1997) membagi ukuran zooplankton dengan ketentuan khusus, yaitu makrozooplankton yang berukuran lebih besar dari 2 cm, dan mesozooplankton yang berukuran 200 – 20.000 m. Larva ikan maupun ikan-ikan muda yang bersifat planktonik disebut ichtyoplankton umumnya berukuran besar. Umumnya zooplankton mempunyai alat gerak seperti flagel, cilia atau kaki renang, namun tidak dapat melawan pergerakan air (Raymont, 1963).

Komposisi jenis zooplankton sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda. Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera, serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992).

Romimohtarto dan Juwana (1998) menyatakan bahwa Crustacea merupakan jenis zooplankton yang terpenting bagi ikan-ikan, baik di perairan tawar maupun di perairan laut. Diantara anggota filum Arthropoda, hanya Crustacea yang dapat hidup sebagai plankton dalam perairan. Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Silvania (1990) mengemukakan bahwa di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Hal ini juga didukung oleh Arinardi (1977) yang menyatakan bahwa kepadatan zooplankton sangat tergantung pada kepadatan fitoplankton, karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, dengan demikian kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.

Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya “The Theory of Differential Growth Rate” (Teori Perbedaan Kecepatan Tumbuh) yang dikemukakan oleh Steeman dan Nielsen (1973) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu.

 

  1. Tumbuhan air

Padang Lamun adalah hamparan vegetasi berbentuk rumput yang umumnya terdapat pada laut dangkal dekat pantai. Fungsinya adalah sebagai habitat ikan-ikan kecil yang setelah besar ikan tersebut berpindah ke tengah laut yang lebih dalam. Ekosistem Padang Lamun memberikan sumber makanan yang produktif bagi ikan-ikan di laut. Karena ekosistem padang lamun berada dekat dengan pantai, tentunya tekanan utama terhadap ekosistem ini datang dari segala hasil kegiatan manusia di pantai. Eutrofikasi dengan nutrien nitrogen dan fosfat dapat mengakibatkan peningkatan pertumbuhan algae dan tanaman lamun, tetapi tidak mengganggu keseimbangan organisme yang ada. Eutrofikasi yang bersumber dari unsur hara di darat, seperti air kotor, minyak, detergen, pupuk dan limbah tambak dapat menimbulkan peledakan epifita lamun dan mengurangi tembusnya cahaya ke tumbuhan tersebut. Hilangnya tumbuhan lamun mengarah kepada erosi lokal, meningkatkan gerakan ombak di dasar laut dan kekeruhan air laut yang berdampak pada kekurangan cahaya untuk vegetasi lamun.

Dua masalah utama dalam pengelolaan padang lamun di Indonesia adalah masalah distribusi lahan pertumbuhan vegetasi dan tingkat eksploitasi sumber daya padang lamun. Masalah distribusi, yaitu hamparan ekosistem padang lamun tidak selalu terdapat di sembarang tempat di laut dangkal, tetapi hanya bisa tumbuh di tempat-tempat tertentu sehingga sulit dilakukan pengelolaannya. Eksploitasi padang lamun biasanya dilakukan oleh masyarakat kecil dan tersebar di mana-mana sehingga sulit dilakukan pengelolaan secara baik untuk kepentingan ekosistem laut secara keseluruhan.

 

  1. Faktor Pembatas

Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya.

 

Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.

Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.

Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu. Tanah terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.

Tumbuhan perdu yang mempunyai daun lebar lebih tahan terhadap keterbatasan sinar matahari, sedangkan tumbuhan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari. Lebar atau kecil daun berpengaruh langsung terhadap kemampuan tumbuhan untuk melakukan kegiatan fotosintesis dan penguapan (transpirasi). Semakin lebar daun semakin tinggi kemampuan fotosintesis dan semakin besar pula penguapan.

 

Faktor cahaya, temperatur, dan kadar garam dalam ekosistem perairan akan berinteraksi bersama menjadi faktor pembatas utama terhadap keberadaan organisme. Hal ini dapat dilihat jelas pada perbedaan jenis organisme yang biasa didapati di dekat muara sungai dengan yang terdapat di lepas pantai atau laut dalam.

 

  1. Metode Pelaksanaan

 

  1. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 29-30 Mei 2010. Bertempat di Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung.

 

  1. Lokasi Praktikum

Pengambilan sample plankton dan tumbuhan air ini dilakukan di perairan laut, tepatnya pulau tegal, dengan 4 titik pengambilan, yaitu di wilayah yang jauh dari aktivitas, dekat dengan aktivitas dan wilayah antara keduanya.

 

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, yaitu planktonet, lugol iodine, botol film, ember volume 5 liter, Sedgwick-rafter cell, tissue, pipet tetes, dan mikroskop binokuler.

 

  1. Pengambilan Sampel

C.1 Plankton

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample plankton, yaitu:

  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Menentukan letak pengambilan sampel
  3. Air laut disaring sebanyak 100 liter dengan menggunakan plankton net ukuran 25 μm
  4. Hasil penyaringan diwadahi menggunakan botol film dengan volume 10 ml
  5. Kemudian diawetkan dengan menggunakan lugol 5%
  6. Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Pertanian, dengan berpedoman pada buku identifikasi Davis (1955), Needham (1963), dan Sachlan

 

C.2 Tumbuhan Air

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample tumbuhan air, yaitu:

  1. Ditentukan letak pengambilan sampe, dengan 4 titik pengambilan sample
  2. Buat transek dengan ukuran 5X5M sebanyak 3 petak dalam satu lokasi
  3. Amati, hitung dan ambil sample tumbuhan air yang ada di wilayah transek tersebut
  4. Identifikasi jenis tumbuhan air tersebut

 

  1. Analisis Data

Adapun analisis data dalam praktikum plankton dan tumbuhan air, menggunakan rumus, sbb:

D.1 Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’)

s

H’ = – S (ni/N) ln (ni/N)

i=1

 

Kisaran total Indeks Keanekaragaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut (modifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981)):

H’ < 2,3026     : keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah

2,3026<H’> 6,9078: keanekaragaman dan kestabilan komunitas sedang

H’ > 6,9078    : keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

 

D.2 Indeks keseragaman (E)

 

E = H’/Hmax

 

Indeks Keseragaman berkisar antara 0-1. Apabila nilai mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai E mendekati 0 apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan.

D.3 Indeks dominansi (D)

 

D = ni2
X 100%

         N2

Keterangan :

D = Indeks Dominansi

ni = jumlah individu jenis ke-i

N = Jumlah total individu

 

D mendekati 0 tidak ada jenis yang mendominansi dan D mendekati 1 terdapat jenis yang mendominansi.

 

D.4 Kelimpahan Plankton dan Tumbuhan air

Pengukuran kelimpahan plankton menggunakan rumus Sachlan dan Effendi (1972), sebagai berikut:

A C 1000

F = —— x ——- x ——- x N

B D E

 

Keterangan :

F = Jumlah individu per liter

A = Luas cover glass

B = Luas lapang pandang

C = Volume sampel yang disaring

D = Volume sampel yang diambil

E = Volume sampel yang diteliti

N = Jumlah organisme yang didapat

 

 

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Metode sampling plankton dalam praktikum ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton dan metode kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat.

 

A. Plankton

Tabel.1 Data hasil pengamatan jumlah dan jenis plankton

No. 

Jenis Plankton 

Jumlah Plankton (sel/ml)

Sampel 1 

Sampel 2 

Sampel 3 

Sampel 4 

1

Aequorea vitrina 

1 

0 

0 

0 

2 

Amphora 

2 

0 

0 

0 

3 

Basilaria paradoxa 

7 

0 

0 

0 

4 

Brachionus sp

1 

     

5 

C.Granii 

4 

0 

0 

0 

6 

C.Radiatus 

3 

1 

0 

89 

7 

Calanus 

0 

0 

0 

5 

8 

Eutima gracilis 

0 

6 

0 

0 

9 

Fragillaria oceanika 

0 

2 

0 

0 

10 

Gyrodinium glaucum 

3 

15 

0 

0 

11 

Halosphaera viridis

3 

26 

0 

0 

12 

Leptocylindricus danicus 

4 

0 

0 

0 

13 

Navicula 

4 

3

0 

0 

14 

Nitzschia closterium 

6 

0 

0 

5 

15 

Oscillatoria 

3 

0

0

0

16 

Pleurosigma.Micans 

0 

0 

0 

6 

17 

Phalocroma sp 

1 

1 

0 

0 

18 

Pinnularia 

3 

0 

5 

0 

19 

Podon leucarii 

1 

0 

0 

0 

20 

Rhizosolenia

0 

13 

2 

0 

21 

Rhizosolenia seligera 

22 

0 

5 

7 

22 

Skeletonema 

3 

0 

0 

0 

23 

Tintinopsis sp

3 

3 

3 

0 

24 

Thalassiothrix nitzschloides 

1 

0 

0 

0 

Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa lebih banyak fitoplankton yang teramati yaitu 16 genus daripada zooplankton 8 genus. Jenis fitoplankton yang teramati dari Bacillariophyta adalah Chaetocheros sp., Thalassiontrix sp., Nitzschia sp., Pleurosigma sp., Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp.., Thalossionema sp., dan Navicula sp. Dari Cyanophyta adalah Oscillatoria sp. Untuk Chlorophyta terdapat 1 genus yaitu Spirogyra sp.

Keberadaan Bacillariophyta dari hasil pengamatan cukup banyak. Hal ini diduga disebabkan oleh salinitas yang relatif tinggi di perairan pulau tegal, yaitu berkisar antara 29-31‰. Menurut Sachlan (1972), fitoplankton yang hidup pada kisaran salinitas diatas 20‰ sebagian besar merupakan plankton dari kelompok Bacillariophyta. Keadaan demikian menurut Riley (1967), diduga berkaitan dengan kondisi perairan yang mendukung terutama keadaan salinitas dan ketersediaan unsur hara. Yudilasmono (1996) dalam Arsil (1999), menyatakan bahwa Bacillariophyta atau Bacillariophyceae lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan merupakan kelompok fitoplankton yang disenangi oleh ikan dan larva udang.

 

Zooplankton yang teramati dari Protozoa 4 genus adalah Tintinopsis sp.,Prorosentrum sp., Triseratium sp. dan Ceratium sp. Rotifera ada 1 genus Brachionus sp., sedangkan Crustacea ada 3 genus yaitu Acartia sp., Daphnia sp. dan Calanus sp.

Dari hasil penghitungan Indeks Keanekaragaman (Diversity Index) terhadap jenis-jenis plankton yang teramati di tiap stasiun penelitian secara umum berada dibawah kisaran nilai indeks keanekaragaman H’ < 2,3026 menurut klasifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981), yaitu pada kisaran nilai 0,8824-2,2889. Kisaran ini menunjukkan keanekaragaman di perairan pulau tegal kecil dan kestabilan komunitas rendah.

Dari hasil penghitungan Indeks Keseragaman (Equitability Index) dengan skor 0 sampai 1 didapatkan bahwa pada 4 kali pengambilan contoh sampel plankton didapatkan bahwa nilai indeks antara 0,818 sampai dengan 0,968. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai indeks (mendekati nilai 1), semakin besar pula keseragaman populasi yang berarti penyebaran jumlah individu sama dan tidak ada kecenderungan terjadi dominansi oleh satu spesies.

Nilai indeks dominansi di perairan pulau tegal berkisar antara 0,1045-0,4811. Nilai ini menunjukkan bahwa relatif tidak ada jenis plankton yang mendominansi, dengan demikian tidak ada jenis-jenis yang mengendalikan perairan ini. Hilangnya jenis-jenis yang dominan, menurut Odum (1971), akan menimbulkan perubahan-perubahan penting tidak hanya pada komunitas biotiknya sendiri tetapi juga dalam lingkungan fisiknya.

Indeks Keanekaragaman (Diversity Index), Indeks Keseragaman (Equitability Index) dan indeks dominansi merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kestabilan komunitas biota perairan terutama dalam hubungannya dengan kondisi suatu perairan. Dengan mengacu pada nilai indeks, terlihat bahwa perairan ini cenderung tidak stabil karena relatif tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi dan rendahnya keanekaragaman. Dimana menurut Clark (1974) dan Krebs (1972) dalam Arsil (1999), tingginya keanekaragaman menunjukkan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Ekosistem yang tidak seimbang akan mempengaruhi pakan alami sehingga jika pakan alami tidak tersedia maka kelangsungan hidup larva organisme akan terancam.

  1. Tumbuhan Air

    B.1 Lokasi 1

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

25 % 

5 % 

2 % 

2. 

Padina 

10 % 

10 % 

2 % 

    B.2 Lokasi 2

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

80 % 

10 % 

5 % 

2. 

Halimeda 

20 % 

90 % 

30 % 

 

    B.3Lokasi 3

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

90 % 

100 % 

30 % 

2. 

Halimeda 

5 % 

0 % 

10 %

 

    B.4 Lokasi 4

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

5 % 

0 % 

0 % 

 

Pada lokasi pengambilan sampel 1 merupakan lokasi yang jauh dari aktivitas, didapatkan tumbuhan air dengan variasi nilai keragaman 25%, 5% ,5 %. Hal ini berarti indeks keragamannya tergolong sedang, Pada perhitungan indeks keseragaman hasil yang didapat yaitu 0,866 artinya keseragamannya tinggi. Selanjutnya Indeks dominasi yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan angka 0,214. hal ini berarti indeks dominasinya tergolong rendah karena nilai tersebut lebih mendekati nol.

Sedangkan pada lokasi 2 dan 3 didapatkan indeks keseragaman yang tinggi dan indeks keanekaragaman yang rendah. Akan tetapi kondisi tersebut berbeda pada lokasi 4, dimana indeks keseragaman dan keanekaragaman yang rendah sekali. Hal tersebut kemungkinan erat kaitannya dengan banyaknya aktifitas di lokasi tersebut yang mengakibatkan tingkat pencemaran tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan air yang berada dilokasi tersebut.

  1. Kesimpulan

     

Perairan pada pulau tegal memiliki 24 jenis plankton, dari hasil analisis indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menunjukkan bahwa perairan ini memiliki keanekaragaman yang rendah dan tidak ada spesies plankton yang mendominasi, sehingga perairan ini cenderung tidak stabil. Ketidakstabilan perairan erat kaitannya dengan ketersediaan pakan alami bagi larva organisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan dari Marine Biology : An Ecological Approach. Alih Bahasa : M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen dan M. Hutomo. Gramedia, Jakarta. 459 p

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p

Umar, C. 2003. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton dalam Kaitannya dengan Kandungan Unsur Hara (Nitrogen dan Fosfor) dari Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Waduk Ir. H. Juanda Jatiluhur Jawa Barat. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 94 p

Yuliana dan Tamrin. 2005. Fluktuasi dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku Utara. 11 p (belum dipublikasikan).

 


 

Vitellogenesis

Praktikum Plankton dan Tumbuhan Air

LAPORAN PRAKTIKUM PLANKTON DAN TUMBUHAN AIR

 

Oleh:

NENI PUTRIANI

 

 

 

  1. PENDAHULUAN

     

     

 

A. Latar Belakang

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan
plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

 

Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak.

 

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne, 1983).

 

Pulau tegal merupakan salah satu pulau yang ada di pesisir lampung, pulau ini telah dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan lokasi budidaya keramba jaring apung (KJA). Pulau tegal berpotensi menjadi pulau yang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat tinggi (eutrofik) disebabkan oleh jumlah KJA yang meningkat setiap tahun, hal ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas perairan. Salah satu diantaranya adalah dapat meningkatkan unsur hara (nitrogen dan fosfor) yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan dan sisa metabolisme ikan. Muatan unsur hara yang berlebihan dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan cepat dan berlimpah sehingga dapat mempengaruhi fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton yang ada di perairan ini.

 

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dan mengetahui teknik pengambilan sampel plankton dari suatu perairan serta mengidentifikasi jenis dari plankton dan tumbuhan air di perairan pulau tegal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

  1. Plankton

Menurut Gusrina dalam BSE menyatakan plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air. Plankton didalam perairan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu phytoplankton dan zooplankton. Phytoplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad nabati sedangkan zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani. Sedangkan bentos adalah organisme air yang hidup didasar perairan .Jenis-jenis phytoplankton dan zooplankton yang dapat dibudidayakan dapat dikelompokkan berdasarkan habitatnya adalah plankton air tawar dan plankton air laut. Plankton air tawar hidup diperairan tawar sedangkanplankton air laut hidup diperairan laut.

 

Dalam siklus hidupnya phytoplankton melakukan proses fotosintesa dan berukuran kecil yaitu terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuk phytoplankton antara lain: oval, bulat dan seperti benang. Phytoplankton yang hidup di dalam perairan ini akan memberikan warna yang khas pada perairan tersebut seperti berwarna hijau, biru atau coklat. Hal ini dikarenakan didalam tubuh phytoplankton terdapat zat warna atau pigmen. Zat warna atau pigmen ini dapat diklasifikasikan yaitu :

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

 

Berdasarkan zat warna yang dimiliki oleh alga ini, maka alga dapat dikelompokkan menjadi :

1. Alga Hijau (Kelas Chlorophyceae)

2. Alga Coklat (Kelas Bacillariophyceae/kelas Phaephyceae)

3. Alga Keemasan (Kelas Chrysophyceae)

4. Alga Merah (Kelas Rhodophyceae)

5. Alga Hijau Kebiruan (Kelas Cyanophyceae)

 

Selain itu menurut Nybakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang memiliki gerakan dan daya renang yang cukup kuat untuk melawan arus laut.

 

Plankton adalah suatu organisme yang terpenting dalam ekosistem laut, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988)

 

Menurut ukurannya, plankton dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu makroplankton (lebih besar dari 1 mm), mikroplankton (0,06–1 mm) dan nanoplankton (kurang dari 0,06 mm) meliputi berbagai jenis fitoplankton. Diperkirakan 70 % dari semua fitoplankton di laut terdiri dari nanoplankton dan inilah yang memungkinkan terdapatnya zooplankton sebagai konsumer primer (Sachlan, 1972).

Berdasarkan daur hidupnya, plankton terbagi dalam dua golongan yaitu holoplankton yang merupakan organisme akuatik dimana seluruh hidupnya bersifat sebagai plankton, golongan kedua yaitu meroplankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat sebagai plankton (Bougis, 1976; Nybakken, 1992).

Berdasarkan keadaan biologisnya, Newel (1963) menggolongkan plankton sebagai berikut : (a) Fitoplankton yang merupakan tumbuhan renik, (b) Zooplankton yang merupakan hewan-hewan yang umumnya renik.

Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Zooplankton memiliki ukuran yang lebih besar dari fitoplankton (Nontji, 1987).

Effendi (1997) membagi ukuran zooplankton dengan ketentuan khusus, yaitu makrozooplankton yang berukuran lebih besar dari 2 cm, dan mesozooplankton yang berukuran 200 – 20.000 m. Larva ikan maupun ikan-ikan muda yang bersifat planktonik disebut ichtyoplankton umumnya berukuran besar. Umumnya zooplankton mempunyai alat gerak seperti flagel, cilia atau kaki renang, namun tidak dapat melawan pergerakan air (Raymont, 1963).

Komposisi jenis zooplankton sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda. Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera, serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992).

Romimohtarto dan Juwana (1998) menyatakan bahwa Crustacea merupakan jenis zooplankton yang terpenting bagi ikan-ikan, baik di perairan tawar maupun di perairan laut. Diantara anggota filum Arthropoda, hanya Crustacea yang dapat hidup sebagai plankton dalam perairan. Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Silvania (1990) mengemukakan bahwa di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Hal ini juga didukung oleh Arinardi (1977) yang menyatakan bahwa kepadatan zooplankton sangat tergantung pada kepadatan fitoplankton, karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, dengan demikian kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.

Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya “The Theory of Differential Growth Rate” (Teori Perbedaan Kecepatan Tumbuh) yang dikemukakan oleh Steeman dan Nielsen (1973) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu.

 

  1. Tumbuhan air


Padang Lamun adalah hamparan vegetasi berbentuk rumput yang umumnya terdapat pada laut dangkal dekat pantai. Fungsinya adalah sebagai habitat ikan-ikan kecil yang setelah besar ikan tersebut berpindah ke tengah laut yang lebih dalam. Ekosistem Padang Lamun memberikan sumber makanan yang produktif bagi ikan-ikan di laut. Karena ekosistem padang lamun berada dekat dengan pantai, tentunya tekanan utama terhadap ekosistem ini datang dari segala hasil kegiatan manusia di pantai. Eutrofikasi dengan nutrien nitrogen dan fosfat dapat mengakibatkan peningkatan pertumbuhan algae dan tanaman lamun, tetapi tidak mengganggu keseimbangan organisme yang ada. Eutrofikasi yang bersumber dari unsur hara di darat, seperti air kotor, minyak, detergen, pupuk dan limbah tambak dapat menimbulkan peledakan epifita lamun dan mengurangi tembusnya cahaya ke tumbuhan tersebut. Hilangnya tumbuhan lamun mengarah kepada erosi lokal, meningkatkan gerakan ombak di dasar laut dan kekeruhan air laut yang berdampak pada kekurangan cahaya untuk vegetasi lamun.

Dua masalah utama dalam pengelolaan padang lamun di Indonesia adalah masalah distribusi lahan pertumbuhan vegetasi dan tingkat eksploitasi sumber daya padang lamun. Masalah distribusi, yaitu hamparan ekosistem padang lamun tidak selalu terdapat di sembarang tempat di laut dangkal, tetapi hanya bisa tumbuh di tempat-tempat tertentu sehingga sulit dilakukan pengelolaannya. Eksploitasi padang lamun biasanya dilakukan oleh masyarakat kecil dan tersebar di mana-mana sehingga sulit dilakukan pengelolaan secara baik untuk kepentingan ekosistem laut secara keseluruhan.

 

  1. Faktor Pembatas

Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya.

 

Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.

 

Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.

Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu. Tanah terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.

Tumbuhan perdu yang mempunyai daun lebar lebih tahan terhadap keterbatasan sinar matahari, sedangkan tumbuhan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari. Lebar atau kecil daun berpengaruh langsung terhadap kemampuan tumbuhan untuk melakukan kegiatan fotosintesis dan penguapan (transpirasi). Semakin lebar daun semakin tinggi kemampuan fotosintesis dan semakin besar pula penguapan.

 

Faktor cahaya, temperatur, dan kadar garam dalam ekosistem perairan akan berinteraksi bersama menjadi faktor pembatas utama terhadap keberadaan organisme. Hal ini dapat dilihat jelas pada perbedaan jenis organisme yang biasa didapati di dekat muara sungai dengan yang terdapat di lepas pantai atau laut dalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Metode Pelaksanaan

 

 

  1. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 29-30 Mei 2010. Bertempat di Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung.

 

 

  1. Lokasi Praktikum

Pengambilan sample plankton dan tumbuhan air ini dilakukan di perairan laut, tepatnya pulau tegal, dengan 4 titik pengambilan, yaitu di wilayah yang jauh dari aktivitas, dekat dengan aktivitas dan wilayah antara keduanya.

 

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, yaitu planktonet, lugol iodine, botol film, ember volume 5 liter, Sedgwick-rafter cell, tissue, pipet tetes, dan mikroskop binokuler.

 

  1. Pengambilan Sampel

C.1 Plankton

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample plankton, yaitu:

  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Menentukan letak pengambilan sampel
  3. Air laut disaring sebanyak 100 liter dengan menggunakan plankton net ukuran 25 μm
  4. Hasil penyaringan diwadahi menggunakan botol film dengan volume 10 ml
  5. Kemudian diawetkan dengan menggunakan lugol 5%
  6. Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Pertanian, dengan berpedoman pada buku identifikasi Davis (1955), Needham (1963), dan Sachlan

 

C.2 Tumbuhan Air

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample tumbuhan air, yaitu:

  1. Ditentukan letak pengambilan sampe, dengan 4 titik pengambilan sample
  2. Buat transek dengan ukuran 5X5M sebanyak 3 petak dalam satu lokasi
  3. Amati, hitung dan ambil sample tumbuhan air yang ada di wilayah transek tersebut
  4. Identifikasi jenis tumbuhan air tersebut

 

  1. Analisis Data

Adapun analisis data dalam praktikum plankton dan tumbuhan air, menggunakan rumus, sbb:

D.1 Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’)

s

H’ = – S (ni/N) ln (ni/N)

i=1

 

Kisaran total Indeks Keanekaragaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut (modifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981)):

H’ < 2,3026     : keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah

2,3026<H’> 6,9078: keanekaragaman dan kestabilan komunitas sedang

H’ > 6,9078    : keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

 

D.2 Indeks keseragaman (E)

 

E = H’/Hmax

 

Indeks Keseragaman berkisar antara 0-1. Apabila nilai mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai E mendekati 0 apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan.

 

 

 

D.3 Indeks dominansi (D)

 

D = ni2
X 100%

         N2

Keterangan :

D = Indeks Dominansi

ni = jumlah individu jenis ke-i

N = Jumlah total individu

 

D mendekati 0 tidak ada jenis yang mendominansi dan D mendekati 1 terdapat jenis yang mendominansi.

 

D.4 Kelimpahan Plankton dan Tumbuhan air

Pengukuran kelimpahan plankton menggunakan rumus Sachlan dan Effendi (1972), sebagai berikut:

A C 1000

F = —— x ——- x ——- x N

B D E

 

Keterangan :

F = Jumlah individu per liter

A = Luas cover glass

B = Luas lapang pandang

C = Volume sampel yang disaring

D = Volume sampel yang diambil

E = Volume sampel yang diteliti

N = Jumlah organisme yang didapat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Metode sampling plankton dalam praktikum ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton dan metode kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat.

 

A. Plankton

Tabel.1 Data hasil pengamatan jumlah dan jenis plankton

No. 

Jenis Plankton 

Jumlah Plankton (sel/ml)

Sampel 1 

Sampel 2 

Sampel 3 

Sampel 4 

1

Aequorea vitrina 

1 

0 

0 

0 

2 

Amphora 

2 

0 

0 

0 

3 

Basilaria paradoxa 

7 

0 

0 

0 

4 

Brachionus sp

1 

     

5 

C.Granii 

4 

0 

0 

0 

6 

C.Radiatus 

3 

1 

0 

89 

7 

Calanus 

0 

0 

0 

5 

8 

Eutima gracilis 

0 

6 

0 

0 

9 

Fragillaria oceanika 

0 

2 

0 

0 

10 

Gyrodinium glaucum 

3 

15 

0 

0 

11 

Halosphaera viridis

3 

26 

0 

0 

12 

Leptocylindricus danicus 

4 

0 

0 

0 

13 

Navicula 

4 

3

0 

0 

14 

Nitzschia closterium 

6 

0 

0 

5 

15 

Oscillatoria 

3 

0

0

0

16 

Pleurosigma.Micans 

0 

0 

0 

6 

17 

Phalocroma sp 

1 

1 

0 

0 

18 

Pinnularia 

3 

0 

5 

0 

19 

Podon leucarii 

1 

0 

0 

0 

20 

Rhizosolenia

0 

13 

2 

0 

21 

Rhizosolenia seligera 

22 

0 

5 

7 

22 

Skeletonema 

3 

0 

0 

0 

23 

Tintinopsis sp

3 

3 

3 

0 

24 

Thalassiothrix nitzschloides 

1 

0 

0 

0 

Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa lebih banyak fitoplankton yang teramati yaitu 16 genus daripada zooplankton 8 genus. Jenis fitoplankton yang teramati dari Bacillariophyta adalah Chaetocheros sp., Thalassiontrix sp., Nitzschia sp., Pleurosigma sp., Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp.., Thalossionema sp., dan Navicula sp. Dari Cyanophyta adalah Oscillatoria sp. Untuk Chlorophyta terdapat 1 genus yaitu Spirogyra sp.

 

Keberadaan Bacillariophyta dari hasil pengamatan cukup banyak. Hal ini diduga disebabkan oleh salinitas yang relatif tinggi di perairan pulau tegal, yaitu berkisar antara 29-31‰. Menurut Sachlan (1972), fitoplankton yang hidup pada kisaran salinitas diatas 20‰ sebagian besar merupakan plankton dari kelompok Bacillariophyta. Keadaan demikian menurut Riley (1967), diduga berkaitan dengan kondisi perairan yang mendukung terutama keadaan salinitas dan ketersediaan unsur hara. Yudilasmono (1996) dalam Arsil (1999), menyatakan bahwa Bacillariophyta atau Bacillariophyceae lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan merupakan kelompok fitoplankton yang disenangi oleh ikan dan larva udang.

 

Zooplankton yang teramati dari Protozoa 4 genus adalah Tintinopsis sp.,Prorosentrum sp., Triseratium sp. dan Ceratium sp. Rotifera ada 1 genus Brachionus sp., sedangkan Crustacea ada 3 genus yaitu Acartia sp., Daphnia sp. dan Calanus sp.

 

Dari hasil penghitungan Indeks Keanekaragaman (Diversity Index) terhadap jenis-jenis plankton yang teramati di tiap stasiun penelitian secara umum berada dibawah kisaran nilai indeks keanekaragaman H’ < 2,3026 menurut klasifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981), yaitu pada kisaran nilai 0,8824-2,2889. Kisaran ini menunjukkan keanekaragaman di perairan pulau tegal kecil dan kestabilan komunitas rendah.

 

 

 

Dari hasil penghitungan Indeks Keseragaman (Equitability Index) dengan skor 0 sampai 1 didapatkan bahwa pada 4 kali pengambilan contoh sampel plankton didapatkan bahwa nilai indeks antara 0,818 sampai dengan 0,968. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai indeks (mendekati nilai 1), semakin besar pula keseragaman populasi yang berarti penyebaran jumlah individu sama dan tidak ada kecenderungan terjadi dominansi oleh satu spesies.

 

Nilai indeks dominansi di perairan pulau tegal berkisar antara 0,1045-0,4811. Nilai ini menunjukkan bahwa relatif tidak ada jenis plankton yang mendominansi, dengan demikian tidak ada jenis-jenis yang mengendalikan perairan ini. Hilangnya jenis-jenis yang dominan, menurut Odum (1971), akan menimbulkan perubahan-perubahan penting tidak hanya pada komunitas biotiknya sendiri tetapi juga dalam lingkungan fisiknya.

 

Indeks Keanekaragaman (Diversity Index), Indeks Keseragaman (Equitability Index) dan indeks dominansi merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kestabilan komunitas biota perairan terutama dalam hubungannya dengan kondisi suatu perairan. Dengan mengacu pada nilai indeks, terlihat bahwa perairan ini cenderung tidak stabil karena relatif tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi dan rendahnya keanekaragaman. Dimana menurut Clark (1974) dan Krebs (1972) dalam Arsil (1999), tingginya keanekaragaman menunjukkan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Ekosistem yang tidak seimbang akan mempengaruhi pakan alami sehingga jika pakan alami tidak tersedia maka kelangsungan hidup larva organisme akan terancam.

  1. Tumbuhan Air

    B.1 Lokasi 1

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

25 % 

5 % 

2 % 

2. 

Padina 

10 % 

10 % 

2 % 

    B.2 Lokasi 2

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

80 % 

10 % 

5 % 

2. 

Halimeda 

20 % 

90 % 

30 % 

 

    B.3Lokasi 3

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

90 % 

100 % 

30 % 

2. 

Halimeda 

5 % 

0 % 

10 %

 

    B.4 Lokasi 4

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

5 % 

0 % 

0 % 

 

Pada lokasi pengambilan sampel 1 merupakan lokasi yang jauh dari aktivitas, didapatkan tumbuhan air dengan variasi nilai keragaman 25%, 5% ,5 %. Hal ini berarti indeks keragamannya tergolong sedang, Pada perhitungan indeks keseragaman hasil yang didapat yaitu 0,866 artinya keseragamannya tinggi. Selanjutnya Indeks dominasi yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan angka 0,214. hal ini berarti indeks dominasinya tergolong rendah karena nilai tersebut lebih mendekati nol.

Sedangkan pada lokasi 2 dan 3 didapatkan indeks keseragaman yang tinggi dan indeks keanekaragaman yang rendah. Akan tetapi kondisi tersebut berbeda pada lokasi 4, dimana indeks keseragaman dan keanekaragaman yang rendah sekali. Hal tersebut kemungkinan erat kaitannya dengan banyaknya aktifitas di lokasi tersebut yang mengakibatkan tingkat pencemaran tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan air yang berada dilokasi tersebut.

 

 

 

  1. Kesimpulan

 

 

Perairan pada pulau tegal memiliki 24 jenis plankton, dari hasil analisis indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menunjukkan bahwa perairan ini memiliki keanekaragaman yang rendah dan tidak ada spesies plankton yang mendominasi, sehingga perairan ini cenderung tidak stabil. Ketidakstabilan perairan erat kaitannya dengan ketersediaan pakan alami bagi larva organisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan dari Marine Biology : An Ecological Approach. Alih Bahasa : M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen dan M. Hutomo. Gramedia, Jakarta. 459 p

 

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p

 

Umar, C. 2003. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton dalam Kaitannya dengan Kandungan Unsur Hara (Nitrogen dan Fosfor) dari Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Waduk Ir. H. Juanda Jatiluhur Jawa Barat. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 94 p

 

Yuliana dan Tamrin. 2005. Fluktuasi dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku Utara. 11 p (belum dipublikasikan).

 

 

DIGESTIVE PHYSIOLOGY OF SHRIMPS

DIGESTIVE PHYSIOLOGY OF SHRIMPS

 

Numerous anatomical descriptions of the digestive apparatus of crustaceans have been published over the past centuries. They poorly represent the complexity of specialized organs involved in digestion of species in this group. In addition, they do not take into account-except in a very partial manner-the immensity and diversity of the subbranch of the crustacean. The first studies of digestive physiology are rather ancient but from the basis of our current understanding. However, they did not become universally applicable until more recent times. While studies of nutritional requirements of crustaceans, using spesies of commercial interest and especially penaeid shrimps, have multiplied during recent decades, the same effort has not been deployed on fundamental research; comparative physiology remained the main line of interest for biologists and zoologists, and in the phyla of interest to aquaculture to which we are limited, only a few studies have been devoted to enzymology and digestive physiology. In this chapter, the term ‘shrimps’ is used to cover all decapod crustaceans commonly referred to as ‘shrimp’ or ‘prawn’.

 

This chapter is devoted to the decapods and concentrates on the penaeid family. The so-called inferior crustaceans, including the Branchiopods, are not considered, despite the considerable importance of artemia salina in aquaculture (chapter 13).

 

In many studies, aspects of anatomy and physiology are ignored. The unique characteristics of the crustaceans in contrast to higher animals must be emphasized in order to allow a better comprehension of the principal mechanisms that form the basis of their nutrition; technicians of shrimp, giant freshwater shrimp or crayfish have to take them into account. These characteristics, of which the last five will be specially mentioned, are:

  • Existence of moults which obligates cycles of laying down of reserves; reutilization of nutrients;
  • Existence of periods of physiological fasting during these moults;
  • Renewal of internal walls of part of the digestive tract;
  • Unique anatomy of mastication and absorption organs;
  • Specific mechanisms for digestion and absorption;
  • Existence of certain unique enzymes, alongside enzymes that are very similar to those found in vertebrates;
  • Involvement of the digestive gland in various functions and in particular in nutrient storage.

ANATOMY AND HISTOLOGY OF THE DIGESTIVE TRACT

 

This tract (figure 15.1) is classically divided into five parts: mouth, oesophagus, stomach, hepatopancreas and midgut and hindgut. While this subdivision is entirely justified, the naming of the different parts by reference to the higher vertebrates is much less so and sometimes leads to a certain amount of confusion. Thus, the stomach in crustaceans only remotely resembles that of vertebrates and the digestive gland or midgut gland or hepatopancreas, which is neither a liver nor a pancreas, is not even the equivalent of that found in certain fish in which the liver is penetrated by pancreatic acini.

 

Mouth

As in other arthropods, the mouth is surrounded by several pairs of appendages which are specialized for chemoreception and prey capture and manipulation: maxillae, maxillulae, mandibles and maxillipeds. These appendages allow the animal to bring food close to mouth, to commence breaking up the food, especially in the decapods, using the maxillipeds to sort particular sizes of food which are the right size for the buccal cavity, and finally to swallow them. The mouth it self has a relatively hard labrum which mainly plays the role of a value. Note that in very young larvae, the antennae, antennules and mandibles are used primarily for swimming.

 

Oesophagus

As in other animals, the lumen of the digestive tract is part of the external environment and its walls constitute a continuation of the epidermis. In crustaceans, this situation is particularly obvious since the walls of the anterior as well as the posterior parts of the digestive tract are covered by a thin layer of chitin, a major constituent of the exoskeleton. This cuticle is renewed during each moult. The oesophagus thus appears to be a conduit with walls made up of supple chitin-protein complexes. It is relatively short and straight in species important to aquaculture; its cross section is generally X-shaped. Waves of contraction run through it that are quite similar to, though simpler than, those found in the vertebrate oesophagus.

 

Stomach

In crustaceans the stomach, like the oesophagus, forms part of the anterior gut in broad terms (figure 15.2). Its exterior structure is relatively simple and relatively rigid. During larval development, the presence of hard structures (bristle, spines and brushes) on the internal walls of the stomach have been described, which masticate the food in the same way as teeth do in vertebrate mouths. The development of these structures results in the ‘gastric mill’. In the decapods, the stomach is made up of two parts separated by a marked constriction which has a sort of valve; its complexity varies between groups. Extending the usage of the terminology employed for the higher vertebrates, these two parts have been called the cardiac chamber and the pyloric chamber. Like the oesophagus, the cross-section of the cardinal chamber is X-shaped as a result of the presence of folds in the form of grooves and thickenings of the walls. The antero-ventral part of this chamber contains a ridge with a row of hard, pointed projections called ossicules, or teeth where they are large (figure 15.2). These calcified and articulated structures are moved by the action of specific muscles situated on the external walls of the stomach bag. Their number and complexity are characteristic of the species – there are 14 in the penaeids.

 

Neurophysiological studies have demonstrated a complex innervations (six groups of different nerves) allowing the movement of the different parts of the gastric mill, contractions of the cardio-pyloric valve as well as peristalsis of the main part of the pyloric stomach. Chemoreceptors and mechanoreceptor organs also play their part in these processes. All these parts, along with the specialized muscles, constitute the gastric mill, a crushing organ which also has a powerful unpaired dorsal tooth. The teeth and ossicules are shed at each moult, at the same time as the exoskeleton, the walls of the oesophagus and the posterior intestine. The complexity of the gastric mill varies between families and appears to be inversely linked to that of the mandibular organs: the more effective they are at breaking down the food, in addition to simple prey capture and manipulation, the simpler the gastric mill, and vice versa. It is well developed in the brachyurids (crabs), moderately developed in the penaeids and very poorly developed in the carids, which include the common prawn and the giant freshwater prawn (macrobranchium).

 

Calcified structures extend into the pyloric sac that forms the start of the midgut or mescuteron. Hard structures also exist here in the form of comb teeth as well as bristles which are sometimes very complex, and tubercules. The sac it self also contains tight folds. Folds, spines and bristles only allow the finest particles of the food bolus to pass; in other words, there is crushing by the teeth, compression by the stomach movements and filtration through the combs. The pyloric stomach compresses, sorts and filters. The finest particles thus cross a ventral, posterior filter sometimes called the filter-press from whence they are directed towards the hepatopancreas an absorptive organ. Because of this, some zoologists consider crustaceans to be filter-feeding organisms, under the same heading as other marine invertebrates such as bivalve mollusks. If mastication and filtration were carried out by the mandibles, a large part of the food would be lost by dissolving into the surrounding environment.

 

The path of food particles to the interior of the stomach is complex and cannot be reduced to simple sequences: crushing, compression and filtration. Despite the difficulties involved in observation, detailed studies have been able to describe part of the particles path. The most likely paths are shown in figure 15.2. Food coming from the oesophagus moves firstly from front to back in the upper groove until it reaches the gastric mill. After grinding and a first mixing with digestive enzymes, the chime returns to the forward part, but during this movement the fine particles separate off towards the rear in the ventral gutter until they reach the filter-press. The finest particles, only a few micrometres in size, can pass this and reach the opening of the digestive gland or hepatopancreas in the pyloric chamber, where

they are digested and then absorbed through the internal lumen of the tubules. Instead of falling into the ventral channel, particles which have not been sufficiently crushed are subjected to another cycle: they reach the anterior part of the cardiac chamber, then pass again towards the rear in order to go through the gastric mill again. This reprocessing of food can continue until it is sufficiently crushed. Particles that are too hard or indigestible, however, finally enter the pyloric chamber, but they cannot pass across the filters and pass into the midgut; they constitute the faeces.

 

The other unique features of the stomach are an external musculature, a quasiautonomic innervations and a particular kind of coating. In most species, the pH of the stomach contents is neutral or slightly alkaline, which is not surprising when the pH of seawater is about 8.3. The organ does not possess any glands or cells that secrete acids or enzymes. Slightly acidic pHs have, however, been indicated in the lobster. Despite this, crustacean stomachs do not correspond to the usual definitions for vertebrates to which physiologists are accustomed.

 

Digestive gland

The hepatopancreas, is a massive organ made up of two symmetrical lobes. It is situated in the dorsal part of the body, immediately below the heart. It represents 2-6% of the body mass and in the adult is formed of hundreds of blind-ending tubules opening into two symmetrical chambers which open into the pyloric chamber oof the stomach. Each tubule has a double network of longitudinal and circular muscles that allow peristaltic and contraction movements, ensuring the movement of the liquid phases within the tubules.

 

In the larva, the hepatopancreas becomes differentiated in the form of diverticuli that appear from each side of the primitive stomach, which is then a simple bag. During larval development, these tubes elongate and multiply greatly. Connective tissue surrounds all these structures and a network of muscle fibres forms to shape the definitive gland. The fundamental structure of the tubules never differs very much from the primitive organization and the gland remains as a collection of blind-ending tubules that converge towards the mesenteron, connected by a collecting bulb (figure 15.3).

 

Within the tubules, as in the acini of secretory glands or in the intestinal villi of vertebrates, a distal zone can be distinguished in which there is cellular differentiation from embryonic cells, then one or more functional zones, secretory and Absorbent and finally, at the proximal part of the tubules, a zone in which the cells degenerate and are rejected into the lumen of the digestive tract. Nomenclature, classification and function of the cells making up the tubules have yet to be agreed unanimously. However, a certain consensus has been reached around the interpretations described below.

 

E cells (embryonic) in the apical proliferation zone give rise to three main cell types: F cells (fibrillar), B cells which are secretory (from the German Blasenzellen, cells in bulbs) and R cells (from the German Resizellen, reserve cells). Other cell types have been described in the tubules, in particular M cell (midget cells). According to the most recently accepted theory, there might be only two types of cell family produced from the proliferation zone: F and B cells on the one hand, and M and R cells on the other. F cells might be intermediate between E and B cells and M cells intermediate between E and R cells. F cells appear to secrete enzymes. At a subsequent stage, that of young B cells, they are the site of endocytosis. When they are mature, these same cells are characterized by a very large central, ovoid vacuole which occupies almost the whole cellular space; there after they break down and their contents are released into the tubular lumen. B cells are thus secretory. R cells contain significant amounts of lipids, as well as glycogen, calcium, zinc and copper and thus certainly play a role in storage, for nutrients either originating from food or from the destruction of the animal’s own during the biological cycle prior to moulting. These cells, like their precursor M cells, also appear to be capable of significant absorption. The energy metabolism of crustaceans relies much more on lipid utilization than on a glycogenic cycle.

 

Movements of particles within the interior of each tubule are ensured by the successive contraction and relaxation of the organ and of each tubule. The mechanisms involved are still not fully understood, since the fluids contained in the tubules are partly discharged into the stomach to allow the start of enzymatic digestion while, apparently almost simultaneously, the chyme being prepared for digestion is aspirated into the tubules for enzymatic digestion and can then straight away be followed by the absorption of the products of biochemical digestion. Recent observations on larvae show rapid passage of food particles in the digestive process from some tubules that contract strongly towards tubules on the opposite side, due to the action of the valves situated beside the filter-press. It is not known if similar mechanisms exist in the juveniles.

 

Midgut

This rectinlinear part of the digestive tract extends from the pylorus to the rectum. Although its surface area is increased by the presence of quite large caeca or diverticuli and the apex is covered in well-developed microvilli, it is not comparable to the vertebrate intestine with its convolutions and villosities. Nerve cells, haemocytes and probable endocrine cells can be distinguished in the epithelium. The great uniqueness of the epithelium in this area is its ability firstly to secrete mucus which coats the solid waste produced by stomach and then, by means of an annular structure, a pellicule of chitin forms a cylinder which envelopes the faecal mass; this is the peritrophic membrane of the excreta. This permeable membrane does not impede the absorption of residual nutrients from the faeces. Its role has not yet been elucidated, but may be analogous to that of the glycocalyx in vertebrates.

Upaya Meramu Pakan Ikan Tanpa Minyak dan Tepung Ikan

Sampai saat ini para peneliti belum menemukan pengganti minyak ikan sebagai penyuplai utama asam lemak omega-3 rantai panjang yang tidak jenuh (highly unsaturated fatty acids, HUFA) terutama asam eikosapentanat (EPA, C20:5n-2) dan dokosaheksanat (DHA, C22:6n-3), baik untuk ikan budidaya maupun untuk konsumsi manusia. Seperti diketahui bahwa keberadaan kedua asam lemak tersebut sangat dibutuhkan oleh ikan budidaya laut untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhannya.

Umumnya ikan laut tidak bisa mensintesa EPA dan DHA sendiri dan juga tidak bisa diperoleh dari minyak nabati. Sehingga tidak mengherankan bila budidaya ikan laut sangat membutuhkan pakan dengan bahan penyusun dari ikan hasil tangkapan di laut yang biasanya memiliki harga lebih murah (mis. anchovy, sarden, dan mackerel) daripada ikan budidaya, maka kegiatan budidaya ikan laut sering diistilahkan sebagai aktivitas “memproduksi ikan dengan ikan”.

Asam lemak omega-3 EPA dan DHA juga sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, terutama pada masa pertumbuhan bayi. Kedua asam lemak ini banyak berguna dalam sistem pertahanan tubuh (immune system) terhadap penyakit, anti-kanker, dan berfungsi penting dalam sistim syaraf, otak dan mata. Asam lemak ini juga dapat mencegah penyakit jantung akibat kolesterol dan tekanan darah tinggi. Juga berguna dalam pengobatan penyakit rematik, memperlancar aliran darah, dan mempertinggi daya pembelajaran janin/bayi. Dengan demikian, sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi ikan lebih banyak daripada daging hewan lainnya.

Meskipun kontroversial, akhir-akhir ini banyak ahli nutrisi mempertanyakan kelebihan bahan makanan ikan atau penggunaan minyak ikan dalam pakan sehubungan dengan tingginya kadar residu beberapa bahan kimia yang berbahaya bagi manusia di dalam tubuh ikan, seperti dioxin dan polychlorinated byphenyls (PCBs). Kadar kontaminasi bahan kimia dalam tubuh ikan budidaya adalah lebih tinggi daripada ikan dari alam seperti yang telah dilaporkan pada ikan salmon dalam Jurnal Science (Hites et al., 2004).

Lebih lanjut dilaporkan bahwa ikan salmon dari Eropa mengandung bahan kontaminasi lebih tinggi daripada yang Amerika Utara dan Selatan. Di alam, ikan karnivora yang berukuran lebih besar memiliki kandungan dioxin dan PCBs lebih tinggi daripada ikan yang berukuran lebih kecil. Hal ini disebabkan karena bahan kimia tersebut sebagian besar terakumulasi dalam tubuh organisme, sehingga semakin tinggi trofik level, semakin tinggi pula kadar akumulasi bahan kimia tersebut. Sementara itu, kadar dioxin dan PCBs pada tumbuh-tumbuhan atau minyak nabati jauh lebih rendah daripada yang dikandung oleh minyak ikan.

Baru-baru ini, beberapa pendekatan yang telah dicoba untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan minyak ikan dalam pakan, dan untuk mengurangi kontaminasi bahan kimia dalam tubuh ikan akan diulas seperti di bawah ini.

 

Substitusi minyak/protein nabati

Selain karena stok ikan laut dunia sebagai sumber utama bahan pakan ikan budidaya adalah semakin menurun akibat over-fishing dan faktor alam, untuk mengurangi kandungan bahan kimia seperti dioxin dan PCBs dalam tubuh ikan budidaya, beberapa peneliti di Eropa sudah mencoba mensubstitusi minyak ikan dengan minyak nabati seperti minyak sawit (palm oil), minyak biji rami (linseed oil) atau minyak lobak (rapeseed oil). Akan tetapi substitusi tersebut tidak bisa menggantikan semua minyak ikan dalam pakan. Dan khusus untuk tahap pembenihan, pengkayaan (enrichment) EPA dan DHA pakan makanan larva ikan laut belum bisa dihindari.

Di Jepang, penelitian subtitusi minyak ikan dengan minyak nabati bisa dikatakan tidak ada, meskipun hampir semua kebutuhan minyak ikan mereka impor dari negera-negara Amerika Latin. Mereka lebih konsentrasi pada penelitian yang diarahkan untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva, pertumbuhan, dan kualitas daging ikan yang dihasilkan. Juga, membuat pakan ikan yang ramah lingkungan (“eco-friendly diet”), misalnya untuk mengurangi loading fosfor dan ammonia dari ikan ke perairan.

Meskipun penggantian minyak ikan dengan minyak nabati sampai 50% tidak mempengaruhi pertumbuhan ikan, akan tetapi kandungan asam lemak EPA dan DHA dalam tubuh ikan turun drastis. Hal tersebut disebabkan karena ikan laut tidak bisa mensintesa sendiri EPA dan DHA dari asam lemak C18 yang banyak dikandung oleh tumbuh-tumbuhan. Jenis ikan budidaya yang telah diketahui tidak memiliki atau sangat rendah aktivitas enzimnya yang bekerja dalam sintesa EPA dan DHA adalah ikan sebelah (turbot) untuk enzim elongase (Ghioni et al., 1999), dan ?5-desaturase untuk ikan kakap (gilthead sea bream) (Mourente et al., 1993).

Ikan salmon menunjukkan kemampuan sedikit lebih besar dalam memanfaatkan minyak nabati. Meskipun demikian, kandungan EPA dan DHA ikan salmon juga menurun bila hanya diberi pakan dengan minyak nabati dan terus menerus. Untuk mengembalikan kandungan EPA dan DHA mendekati ikan yang diberi pakan dengan minyak ikan, Bell et al., (2003) menyarankan perlakuan “wash out”, yaitu mengganti pakan yang mengandung minyak nabati dengan pakan yang mengandung minyak ikan beberapa bulan sebelum panen dilakukan. Substitusi minyak ikan dengan minyak nabati juga telah menurunkan kadar dioxin dan PCBs pada ikan salmon (Bell et al., 2004).

Selain masalah asam lemak omega-3 di atas, kandungan asam amino tepung nabati juga tidak selengkap dengan tepung ikan yang kaya akan amino esensial seperti lysine dan methionine. Protein nabati juga tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh ikan. Dengan demikian, ketergantungan ikan budidaya pada tepung ikan juga masih sangat tinggi. Aplikasi bioteknologi yang bisa meningkatkan kemampuan ikan memanfaatkan minyak/protein nabati mungkin akan membatu mengurangi ketergantungan tersebut. Hal ini menjadi tantangan bagi para bioteknologist untuk menemukan faktor pembatas dalam sistem metabolisme protein yang terlibat dalam pencernaan pakan nabati.

2. Memelihara ikan jenis karnivora lebih boros 

Saat ini, salah satu jenis ikan yang menjadi ikan budidaya unggulan yang telah ditetapkan oleh Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP) adalah ikan kerapu. Walau harga ikan kerapu relatif mahal dibandingkan dengan ikan budidaya laut lainnya, tetapi kita tahu bahwa ikan ini adalah ikan jenis karnivora dan sampai saat ini ikan kerapu belum bisa memanfatkan pakan buatan.

Akibatnya, hampir semua daerah yang mengembangkan ikan kerapu menggunakan pakan berupa ikan rucah mentah. Harga ikan rucah memang murah dan masih relatif mudah diperoleh. Akan tetapi selain suplainya sangat tergantung musim, juga kualitasnya sangat bervariasi. Ikan rucah juga bisa sebagai sumber panyakit yang bisa menular ke ikan budidaya.

Dengan hanya memberikan pakan berupa ikan rucah ditambah beberapa sumber protein nabati seperti kedele, untuk memproduksi ikan kerapu dengan bobot 0,5 kg, dibutuhkan sekitar 6 kg ikan rucah. Bisa dibayangkan berapa banyak ikan rucah yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan budidaya ikan kerapu yang sudah digongkan oleh DKP tersebut.

Pada beberapa daerah yang suplai ikan rucahnya sudah tidak mencukupi, misalnya di Riau, ikan kerapu diberi pakan berupa ikan tongkol/tuna yang mentah yang berukuran kecil. Mereka mengorbankan ikan tongkol kecil karena harganya lebih murah daripada ikan kerapu hidup. Mereka lupa bahwa ikan tongkol/tuna yang kecil merupakan cikal tongkol/tuna ukuran besar. Bila kegiatan budidaya seperti itu terus berjalan dan menjadi intensif, maka stok ikan tongkol/tuna di perairan kita akan menurun drastis dalam waktu yang singkat.

Untuk itu menjadi tantangan bagi Tim Rusnas DKP program ikan kerapu untuk membuat pakan buatan yang disenangi oleh ikan kerapu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Strategi yang pernah dilakukan pada ikan ekor kuning (yellowtail) atau kakap merah (red seabream) di Jepang yang pada awalnya tidak bisa memanfaatkan pakan buatan menjadi terbiasa, bisa ditiru untuk ikan kerapu.

3. Melirik ikan jenis herbivora/omnivora 

Ikan air tawar pada umumnya mampu mensintesa omega-3 EPA dan DHA dari asam lemak C18. Sehingga mereka tidak begitu membutuhkan suplai minyak/tepung ikan dalam makanannya. Oleh karena itu, pengembangan budidaya ikan yang bersifat herbivora atau omnivora sebagai sumber protein hewani, dapat menjadi alternatif pengganti budidaya ikan jenis karnivora.

Beberapa peneliti Jepang sudah mulai memikirkan untuk mengembangkan ikan-ikan herbivora. Akan tetapi mereka tidak punya banyak pilihan jenis ikan. Ikan tilapia yang telah menunjukkan pertumbuhan dan kualitas daging yang bagus walau hanya diberi makan berupa plankton, tidak bisa hidup bebas di alam Jepang dengan temperatur yang sangat bervariasi tergantung musim. Selain itu, orang Jepang tidak begitu senang makan ikan air tawar.

Sebaliknya, beberapa jenis ikan air tawar yang telah lama kita kembangkan, seperti ikan tilapia, mujair, gurame, ikan mas dan ikan patin, bisa lebih ditingkatkan produksinya, baik melalui perbaikan sistem budidaya atau pun dengan aplikasi bioteknologi. Ada beberapa jenis ikan air tawar, seperti tilapia dan mujair, mampu hidup pada rentang salinitas yang luas. Ikan-ikan seperti ini dapat kita kembangkan untuk masa depan.

Beberapa hasil penelitian bioteknologi pada tanaman telah menunjukkan adanya peningkatan daya tahan terhadap kadar garam tinggi. Teknik ini mungkin bisa digunakan untuk meningkatkan daya adaptasi ikan air tawar pada salinitas air payau atau bahkan air laut untukmengantisipasi semakin sempitnya lahan budidaya air tawar.

4. Bioteknologi dalam budidaya ikan 

Ikan air tawar umumnya mengandung omega-6 lebih banyak daripada omega-3.Sebaliknya, ikan laut mempunyai omega-3 lebih banyak. Asam lemak omega-6 banyak kita dapatkan dari sayur-sayuran, dan jarang orang kekurangan asam lemak kelompok ini. Meskipun ikan air tawar bisa memproduksi sendiri asam lemak omega-3, tetapi kadar asam lemaknya jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang ada pada ikan laut.

Ikan laut banyak mengandung omega-3 bukan sebagai hasil produksi sendiri, tetapi hanya mengakumulasikan asam lemak tersebut di dalam tubuhnya secara selektif dari makanan yang dimakan. Hal ini yang menyebabkan ikan laut yang dibudidayakan tidak bisa terlepas dari suplai EPA dan DHA dalam makanannya, khususnya pada fase pembenihan. Sehingga peningkatan produksi akuakultur yang berlipat ganda dalam dua dasawarsa terakhir ini merupakan salah satu penyebab cepatnya penurunan stok ikan laut dunia (Naylor et al., 2000).

Salah satu bentuk kemajuan bioteknologi yang mungkin dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah pakan ikan laut dan juga suplai EPA dan DHA untuk manusia adalah melalui modifikasi sistem metabolisme asam lemak pada ikan. Dengan cara melipatgandakan jumlah copy gen yang bekerja dalam sintesa asam lemak HUFA, maka kadar EPA dan DHA dalam tubuh ikan meningkat sebesar 1,4 dan 2,1 kali lipat daripada ikan biasa (Alimuddin et al., 2005).

Pada penelitian itu, masih digunakan ikan air tawar sebagai model. Dengan cara yang sama, strain ikan laut yang bisa mensintesa EPA/DHA sendiri berpeluang besar untuk dibuat. Aplikasi teknologi ini pada ikan laut akan membuka peluang pengembangan budidaya ikan laut lebih besar lagi tanpa harus mengorbankan ikan berukuran kecil lebih banyak lagi. Juga dengan membudidayakan ikan laut jenis ini, kebutuhan akan minyak ikan menjadi menurun atau mungkin semuanya bisa digantikan oleh minyak nabati. Dengan kata lain biaya pakan ikan budidaya yang bisa melebihi 50% biaya produksi dapat ditekan sehingga kegiatan budidaya menjadi lebih ekonomis.

(Sumber : Simposium Nasional Bioteknologi Dalam Akuakultur, Juli 2006)

“Membuat pakan sendiri,” banyak pembudidaya ikan berpikir apa bisa membuat pakan ikan sendiri untuk peliharaan ikan? Tentunya bisa. Melihat sekarang pakan atau pellet terus naik harganya dan makin tidak terjangkau para petani budidaya ikan.


Pellet ukuran 5ml, 3 ml, 1.5 ml

Meskipun beberapa pakan buatan sendiri diakui masih kurang berkualitas dari pakan buatan pabrik tapi tidak menutup kemungkinan pakan buatan sendiri lebih baik, lebih segar jika bahan-bahan pembuatan pakan tersedia dan mutu yang baik.

Pakan yang baik memenuhi nutrisi ikan. Mengenal kebutuhan nutrisi ikan merupakan landasan dalam pembuatan pakan ikan sendiri, setiap ikan membutuhkan nilai gisi yang berbeda, kebutuhan protein, lemak dan serat ikan nila atau tilapia berbeda dengan ikan lele.

Ikan lele memerlukan lebih sedikit nilai nutrisi dibanding dengan ikan nila, gurame, ikan mas dan sebagainya.

Pakan yang memiliki keseimbangan protein, lemak, dan serat untuk kebutuhan ikan tertentu akan memacu pertumbuhan ikan yang cepat besar, akan tetapi bila nutrisi yang dibutuhkan ikan kurang maka pertumbuhan ikan akan lambat berakibat pada biaya dan waktu panen yang cukup lama.

Sering terjadi ikan dipanen pada umur 6 bulan menjadi 8 bulan untuk ikan nila berukuran 500 gr. Karena nilai protein dan lemak serta serat yang kurang.

Kandungan nutrisi pakan ikan buatan sendiri dibagi dua bagian sesuai dengan umur ikan.

ikan nila yang berumur 1-3 bulan nilai protein antara 35%-50%.

Ikan nila yang berumur 4 bulan keatas 25%-30% . lihat table untuk lebih lanjut.

Setelah mengetahui kebutuhan ikan, kita perlu mempelajari bahan-bahan dan kandungan gisi setiap bahan yang tersedia. Hampir semua bahan dasar yang dibutuhkan dalam pembuatan pakan ikan sendiri tersedia di seluruh pelosok nusantara. Seperti, jagung, dedak kuning, tepung ikan, ampas tahu, limbah udang, bungkil, dan lainnya. Bahan-bahan tersebut memiliki nilai gisi yang cukup untuk kebutuhan ikan. Lihat table1. kandungan gisi bahan-bahan pembuatan pakan.

Kandungan Protein Bahan Makanan Ikan
Nama Bahan Protein Lemak Serat
Tepung Teri 63.71 4.21 3.6
Tepung Udang 47.47 8.95 4.49
Tepung Darah 80.85 5.61 0
Tepung bekicot 39 9.33 1.05
Tepung Ikan 62.99 6.01 3.6
Tepung Kedelai 46.8 5.31 3.54
Tepung Terigu 12.27 1.16 0
Dedak Halus 13.3 2.4 9.4
Tepung Jagung 9.5 3.22 1.76
Tepung singkong 0.85 0.3 0
Bungkil Kelapa 24.0 8.0 10
Tepung Ayam Segar 15.51 0.21 0.36

Jika di daerah anda tidak memiliki satu atau dua bahan yang tertera di atas anda masih tetap bisa membuat pellet ikan, dengan tiga macam saja tentu bisa juga. Dengan memperhatikan kebutuhan ikan, maka pakan ikan dapat diupayakan. Ingat lebih baik dengan bahan tiga macam yang ketersediaannya berkelanjutan lebih baik daripada lima atau enam baham campuran yang kadang tersedia dan kadang tidak. Sebaiknya jangan membuat pakan dengan campuran bahan pakan yang terus berubah-ubah menjaga agar ikan tidak stress oleh karena perubahan bahan pembuatan pellet.

Bahan Lemak Protein Bahan/KG
Ikan 6.0 55.0 100
Dedak 2.4 13.3 100
Jagung 4.5 9.8 100
Kedelai 1.3 46.8 100
Kopra 16.7 79.4 100

Table2.

Bagaimana mencampur bahan pakan ikan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan nila? Ada banyak cara untuk menghitung dan menkombinasiakan bahan pakan yang memenuhi standar yang di tentukan.

Misalnya kita akan membuat pakan dengan nilai protein 40%, lemak 5% dengan bahan yang tersedia; tepung ikan, jagung giling, dan ampas tahu

lihat contoh table formula campuran bahan pakan.

Bahan Jumlah campuran Harga Bahan Kandungan Nutrisi
% Cost (RP/100 kg) Lemak (%) protein (%)
Ikan 30.0 1.80 16.50
Dedak 0.0 0.00 0.00
Jagung 20.0 0.90 1.96
Kedelai 50.0 0.65 23.40
Kopra 0.00
Total 100 3.35 41.86

Tabel3.

Ingredient Inclution Rate Inclution Contribution to
% Cost (RP/100 kg) Lipid (%) Protein (%)
Ikan 30.0 1.80 16.50
Dedak 50.0 1.20 6.65
Jagung 20.0 0.90 1.96
Kedelai 0.00 0.00
Kopra 0.00
Total 100 Rp 3.90 25.11

Tabel4.

Contoh campuran bahan diatas hanya terdiri dari tiga bahan: tepung ikan, jagung halus, dan ampas tahu. Tentu saja anda bisa membuat dengan model campuran yang lain akan tetapi tepung ikan bahan utama yang harus ada dalam setiap pembuatan pakan ikan karena tepung ikan menimbulkan aroma yang dapat merangsang napsu makan ikan dan akan lebih baik lagi bila di tambahkan dua persen minyak ikan pada campuran pembuatan pellet ikan. Perhitungan diatas adalah perhitungan kasar. Kualitas bahan dan lain unsur lain dapat mempengaruhi nilai kandungan gisi setiap bahan.

Setelah ditentukan bahan yang akan di gunakan kita sampai pada proses pencampuran sebagai berikut;

  • Sediakan tempat yang bersih untuk mengaduk sebanyak 100 kg .
  • Campurkan setiap bahan yang sudah ditentukan dalam kilogram.
  • Aduk sampai semua bahan sudah tercampur dengan mereta.
  • Sediakan wadah untuk persiapan pencetakan bahan menjadi berbentuk pellet.

Mesin pencetak pellet ada dua macam; pencetak pellet basah dan mesin pencetak pellet kering. Biasanya mesin pencetak basah tidak bisa untuk mencetak pellet kering akan tetapi mesin pencetak pellet kering bisa mencetak pellet basah.


Desain pencetak pellet basah umumnya lebih murah dan mesin ini banyak di buat dalam negeri oleh bengkel-benkel industri kecil tapi, ada juga diantara mereka yang memproduksi mesin pencetak pellet kering dan harganya dua sampai tiga kali lipat, karena pembuatanya lebih mahal.

Dalam proses pencetakan pellet basah hendaknya campuran air pada bahan jangan terlalu banyak atau sampai encer.

Pellet akan terbentuk jika campuran tidak encer.

Percobaan berulang-ulang akan menghasilkan takaran air yang tepat.

Tuangkan bahan yang sudah dicampur ke mesin pencetak sedikit demi sedikit untuk melihat hasil cetakan apakah sudah bagus atau belum, tambahkan air jika mesin kelihatan bekerja terlalu berat atau jika terlalu encer tambahkan bahan kering yang sudah dicampur.

Budidaya ikan nila akan lebih banyak menguntungkan jika pakan ikan dibuat sendiri. Makanan ikan merupakan biaya yang paling banyak dikeluarkan dalam usaha budidaya ikan.