KELIMPAHAN PLANKTON dan TUMBUHAN AIR

DI PERAIRAN LAUT PULAU TEGAL

( Laporan Praktikum Plankton dan Tumbuhan Air )

 

 

Oleh:

Neni Putriani

 

 

  1. PENDAHULUAN

     

A. Latar Belakang

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan
plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

 

Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak.

 

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne, 1983).

 

Pulau tegal merupakan salah satu pulau yang ada di pesisir lampung, pulau ini telah dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan lokasi budidaya keramba jaring apung (KJA). Pulau tegal berpotensi menjadi pulau yang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat tinggi (eutrofik) disebabkan oleh jumlah KJA yang meningkat setiap tahun, hal ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas perairan. Salah satu diantaranya adalah dapat meningkatkan unsur hara (nitrogen dan fosfor) yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan dan sisa metabolisme ikan. Muatan unsur hara yang berlebihan dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan cepat dan berlimpah sehingga dapat mempengaruhi fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton yang ada di perairan ini.

 

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton dan mengetahui teknik pengambilan sampel plankton dari suatu perairan serta mengidentifikasi jenis dari plankton dan tumbuhan air di perairan pulau tegal

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Plankton

Menurut Gusrina dalam BSE menyatakan plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air. Plankton didalam perairan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu phytoplankton dan zooplankton. Phytoplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad nabati sedangkan zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani. Sedangkan bentos adalah organisme air yang hidup didasar perairan .Jenis-jenis phytoplankton dan zooplankton yang dapat dibudidayakan dapat dikelompokkan berdasarkan habitatnya adalah plankton air tawar dan plankton air laut. Plankton air tawar hidup diperairan tawar sedangkanplankton air laut hidup diperairan laut.

 

Dalam siklus hidupnya phytoplankton melakukan proses fotosintesa dan berukuran kecil yaitu terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuk phytoplankton antara lain: oval, bulat dan seperti benang. Phytoplankton yang hidup di dalam perairan ini akan memberikan warna yang khas pada perairan tersebut seperti berwarna hijau, biru atau coklat. Hal ini dikarenakan didalam tubuh phytoplankton terdapat zat warna atau pigmen. Zat warna atau pigmen ini dapat diklasifikasikan yaitu :

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

 

Berdasarkan zat warna yang dimiliki oleh alga ini, maka alga dapat dikelompokkan menjadi :

1. Alga Hijau (Kelas Chlorophyceae)

2. Alga Coklat (Kelas Bacillariophyceae/kelas Phaephyceae)

3. Alga Keemasan (Kelas Chrysophyceae)

4. Alga Merah (Kelas Rhodophyceae)

5. Alga Hijau Kebiruan (Kelas Cyanophyceae)

 

 

Selain itu menurut Nybakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang memiliki gerakan dan daya renang yang cukup kuat untuk melawan arus laut.

Plankton adalah suatu organisme yang terpenting dalam ekosistem laut, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988)

Menurut ukurannya, plankton dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu makroplankton (lebih besar dari 1 mm), mikroplankton (0,06–1 mm) dan nanoplankton (kurang dari 0,06 mm) meliputi berbagai jenis fitoplankton. Diperkirakan 70 % dari semua fitoplankton di laut terdiri dari nanoplankton dan inilah yang memungkinkan terdapatnya zooplankton sebagai konsumer primer (Sachlan, 1972).

Berdasarkan daur hidupnya, plankton terbagi dalam dua golongan yaitu holoplankton yang merupakan organisme akuatik dimana seluruh hidupnya bersifat sebagai plankton, golongan kedua yaitu meroplankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat sebagai plankton (Bougis, 1976; Nybakken, 1992).


Berdasarkan keadaan biologisnya, Newel (1963) menggolongkan plankton sebagai berikut : (a) Fitoplankton yang merupakan tumbuhan renik, (b) Zooplankton yang merupakan hewan-hewan yang umumnya renik.


Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Zooplankton memiliki ukuran yang lebih besar dari fitoplankton (Nontji, 1987).


Effendi (1997) membagi ukuran zooplankton dengan ketentuan khusus, yaitu makrozooplankton yang berukuran lebih besar dari 2 cm, dan mesozooplankton yang berukuran 200 – 20.000 m. Larva ikan maupun ikan-ikan muda yang bersifat planktonik disebut ichtyoplankton umumnya berukuran besar. Umumnya zooplankton mempunyai alat gerak seperti flagel, cilia atau kaki renang, namun tidak dapat melawan pergerakan air (Raymont, 1963).

Komposisi jenis zooplankton sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda. Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera, serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992).

Romimohtarto dan Juwana (1998) menyatakan bahwa Crustacea merupakan jenis zooplankton yang terpenting bagi ikan-ikan, baik di perairan tawar maupun di perairan laut. Diantara anggota filum Arthropoda, hanya Crustacea yang dapat hidup sebagai plankton dalam perairan. Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Silvania (1990) mengemukakan bahwa di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Hal ini juga didukung oleh Arinardi (1977) yang menyatakan bahwa kepadatan zooplankton sangat tergantung pada kepadatan fitoplankton, karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, dengan demikian kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.

Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya “The Theory of Differential Growth Rate” (Teori Perbedaan Kecepatan Tumbuh) yang dikemukakan oleh Steeman dan Nielsen (1973) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu.

 

  1. Tumbuhan air

Padang Lamun adalah hamparan vegetasi berbentuk rumput yang umumnya terdapat pada laut dangkal dekat pantai. Fungsinya adalah sebagai habitat ikan-ikan kecil yang setelah besar ikan tersebut berpindah ke tengah laut yang lebih dalam. Ekosistem Padang Lamun memberikan sumber makanan yang produktif bagi ikan-ikan di laut. Karena ekosistem padang lamun berada dekat dengan pantai, tentunya tekanan utama terhadap ekosistem ini datang dari segala hasil kegiatan manusia di pantai. Eutrofikasi dengan nutrien nitrogen dan fosfat dapat mengakibatkan peningkatan pertumbuhan algae dan tanaman lamun, tetapi tidak mengganggu keseimbangan organisme yang ada. Eutrofikasi yang bersumber dari unsur hara di darat, seperti air kotor, minyak, detergen, pupuk dan limbah tambak dapat menimbulkan peledakan epifita lamun dan mengurangi tembusnya cahaya ke tumbuhan tersebut. Hilangnya tumbuhan lamun mengarah kepada erosi lokal, meningkatkan gerakan ombak di dasar laut dan kekeruhan air laut yang berdampak pada kekurangan cahaya untuk vegetasi lamun.

Dua masalah utama dalam pengelolaan padang lamun di Indonesia adalah masalah distribusi lahan pertumbuhan vegetasi dan tingkat eksploitasi sumber daya padang lamun. Masalah distribusi, yaitu hamparan ekosistem padang lamun tidak selalu terdapat di sembarang tempat di laut dangkal, tetapi hanya bisa tumbuh di tempat-tempat tertentu sehingga sulit dilakukan pengelolaannya. Eksploitasi padang lamun biasanya dilakukan oleh masyarakat kecil dan tersebar di mana-mana sehingga sulit dilakukan pengelolaan secara baik untuk kepentingan ekosistem laut secara keseluruhan.

 

  1. Faktor Pembatas

Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya.

 

Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.

Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.

Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu. Tanah terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.

Tumbuhan perdu yang mempunyai daun lebar lebih tahan terhadap keterbatasan sinar matahari, sedangkan tumbuhan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari. Lebar atau kecil daun berpengaruh langsung terhadap kemampuan tumbuhan untuk melakukan kegiatan fotosintesis dan penguapan (transpirasi). Semakin lebar daun semakin tinggi kemampuan fotosintesis dan semakin besar pula penguapan.

 

Faktor cahaya, temperatur, dan kadar garam dalam ekosistem perairan akan berinteraksi bersama menjadi faktor pembatas utama terhadap keberadaan organisme. Hal ini dapat dilihat jelas pada perbedaan jenis organisme yang biasa didapati di dekat muara sungai dengan yang terdapat di lepas pantai atau laut dalam.

 

  1. Metode Pelaksanaan

 

  1. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 29-30 Mei 2010. Bertempat di Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung.

 

  1. Lokasi Praktikum

Pengambilan sample plankton dan tumbuhan air ini dilakukan di perairan laut, tepatnya pulau tegal, dengan 4 titik pengambilan, yaitu di wilayah yang jauh dari aktivitas, dekat dengan aktivitas dan wilayah antara keduanya.

 

  1. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, yaitu planktonet, lugol iodine, botol film, ember volume 5 liter, Sedgwick-rafter cell, tissue, pipet tetes, dan mikroskop binokuler.

 

  1. Pengambilan Sampel

C.1 Plankton

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample plankton, yaitu:

  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Menentukan letak pengambilan sampel
  3. Air laut disaring sebanyak 100 liter dengan menggunakan plankton net ukuran 25 μm
  4. Hasil penyaringan diwadahi menggunakan botol film dengan volume 10 ml
  5. Kemudian diawetkan dengan menggunakan lugol 5%
  6. Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Pertanian, dengan berpedoman pada buku identifikasi Davis (1955), Needham (1963), dan Sachlan

 

C.2 Tumbuhan Air

Adapun prosedur kerja dalam pengambilan sample tumbuhan air, yaitu:

  1. Ditentukan letak pengambilan sampe, dengan 4 titik pengambilan sample
  2. Buat transek dengan ukuran 5X5M sebanyak 3 petak dalam satu lokasi
  3. Amati, hitung dan ambil sample tumbuhan air yang ada di wilayah transek tersebut
  4. Identifikasi jenis tumbuhan air tersebut

 

  1. Analisis Data

Adapun analisis data dalam praktikum plankton dan tumbuhan air, menggunakan rumus, sbb:

D.1 Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’)

s

H’ = – S (ni/N) ln (ni/N)

i=1

 

Kisaran total Indeks Keanekaragaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut (modifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981)):

H’ < 2,3026     : keanekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah

2,3026<H’> 6,9078: keanekaragaman dan kestabilan komunitas sedang

H’ > 6,9078    : keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

 

D.2 Indeks keseragaman (E)

 

E = H’/Hmax

 

Indeks Keseragaman berkisar antara 0-1. Apabila nilai mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai E mendekati 0 apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan.

D.3 Indeks dominansi (D)

 

D = ni2
X 100%

         N2

Keterangan :

D = Indeks Dominansi

ni = jumlah individu jenis ke-i

N = Jumlah total individu

 

D mendekati 0 tidak ada jenis yang mendominansi dan D mendekati 1 terdapat jenis yang mendominansi.

 

D.4 Kelimpahan Plankton dan Tumbuhan air

Pengukuran kelimpahan plankton menggunakan rumus Sachlan dan Effendi (1972), sebagai berikut:

A C 1000

F = —— x ——- x ——- x N

B D E

 

Keterangan :

F = Jumlah individu per liter

A = Luas cover glass

B = Luas lapang pandang

C = Volume sampel yang disaring

D = Volume sampel yang diambil

E = Volume sampel yang diteliti

N = Jumlah organisme yang didapat

 

 

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Metode sampling plankton dalam praktikum ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton dan metode kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat.

 

A. Plankton

Tabel.1 Data hasil pengamatan jumlah dan jenis plankton

No. 

Jenis Plankton 

Jumlah Plankton (sel/ml) 

Sampel 1 

Sampel 2 

Sampel 3 

Sampel 4 

1 

Aequorea vitrina 

1 

0 

0 

0 

2 

Amphora 

2 

0 

0 

0 

3 

Basilaria paradoxa 

7 

0 

0 

0 

4 

Brachionus sp

1 

     

5 

C.Granii 

4 

0 

0 

0 

6 

C.Radiatus 

3 

1 

0 

89 

7 

Calanus 

0 

0 

0 

5 

8 

Eutima gracilis 

0 

6 

0 

0 

9 

Fragillaria oceanika 

0 

2 

0 

0 

10 

Gyrodinium glaucum 

3 

15 

0 

0 

11 

Halosphaera viridis 

3 

26 

0 

0 

12 

Leptocylindricus danicus 

4 

0 

0 

0 

13 

Navicula 

4 

3 

0 

0 

14

Nitzschia closterium 

6 

0 

0 

5 

15 

Oscillatoria 

3 

0 

0 

0 

16 

Pleurosigma.Micans 

0 

0 

0 

6 

17 

Phalocroma sp 

1 

1 

0 

0 

18 

Pinnularia 

3 

0 

5 

0 

19 

Podon leucarii 

1 

0 

0 

0 

20 

Rhizosolenia 

0 

13 

2 

0 

21 

Rhizosolenia seligera 

22 

0 

5 

7 

22 

Skeletonema 

3 

0 

0 

0 

23 

Tintinopsis sp

3 

3 

3 

0 

24 

Thalassiothrix nitzschloides 

1 

0 

0 

0 

Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa lebih banyak fitoplankton yang teramati yaitu 16 genus daripada zooplankton 8 genus. Jenis fitoplankton yang teramati dari Bacillariophyta adalah Chaetocheros sp., Thalassiontrix sp., Nitzschia sp., Pleurosigma sp., Coscinodiscus sp., Rhizosolenia sp.., Thalossionema sp., dan Navicula sp. Dari Cyanophyta adalah Oscillatoria sp. Untuk Chlorophyta terdapat 1 genus yaitu Spirogyra sp.

Keberadaan Bacillariophyta dari hasil pengamatan cukup banyak. Hal ini diduga disebabkan oleh salinitas yang relatif tinggi di perairan pulau tegal, yaitu berkisar antara 29-31‰. Menurut Sachlan (1972), fitoplankton yang hidup pada kisaran salinitas diatas 20‰ sebagian besar merupakan plankton dari kelompok Bacillariophyta. Keadaan demikian menurut Riley (1967), diduga berkaitan dengan kondisi perairan yang mendukung terutama keadaan salinitas dan ketersediaan unsur hara. Yudilasmono (1996) dalam Arsil (1999), menyatakan bahwa Bacillariophyta atau Bacillariophyceae lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan merupakan kelompok fitoplankton yang disenangi oleh ikan dan larva udang.

 

Zooplankton yang teramati dari Protozoa 4 genus adalah Tintinopsis sp.,Prorosentrum sp., Triseratium sp. dan Ceratium sp. Rotifera ada 1 genus Brachionus sp., sedangkan Crustacea ada 3 genus yaitu Acartia sp., Daphnia sp. dan Calanus sp.

Dari hasil penghitungan Indeks Keanekaragaman (Diversity Index) terhadap jenis-jenis plankton yang teramati di tiap stasiun penelitian secara umum berada dibawah kisaran nilai indeks keanekaragaman H’ < 2,3026 menurut klasifikasi Wilhm dan Dorris (1968) dalam Mason (1981), yaitu pada kisaran nilai 0,8824-2,2889. Kisaran ini menunjukkan keanekaragaman di perairan pulau tegal kecil dan kestabilan komunitas rendah.

Dari hasil penghitungan Indeks Keseragaman (Equitability Index) dengan skor 0 sampai 1 didapatkan bahwa pada 4 kali pengambilan contoh sampel plankton didapatkan bahwa nilai indeks antara 0,818 sampai dengan 0,968. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai indeks (mendekati nilai 1), semakin besar pula keseragaman populasi yang berarti penyebaran jumlah individu sama dan tidak ada kecenderungan terjadi dominansi oleh satu spesies.

Nilai indeks dominansi di perairan pulau tegal berkisar antara 0,1045-0,4811. Nilai ini menunjukkan bahwa relatif tidak ada jenis plankton yang mendominansi, dengan demikian tidak ada jenis-jenis yang mengendalikan perairan ini. Hilangnya jenis-jenis yang dominan, menurut Odum (1971), akan menimbulkan perubahan-perubahan penting tidak hanya pada komunitas biotiknya sendiri tetapi juga dalam lingkungan fisiknya.

Indeks Keanekaragaman (Diversity Index), Indeks Keseragaman (Equitability Index) dan indeks dominansi merupakan indeks yang digunakan untuk menilai kestabilan komunitas biota perairan terutama dalam hubungannya dengan kondisi suatu perairan. Dengan mengacu pada nilai indeks, terlihat bahwa perairan ini cenderung tidak stabil karena relatif tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi dan rendahnya keanekaragaman. Dimana menurut Clark (1974) dan Krebs (1972) dalam Arsil (1999), tingginya keanekaragaman menunjukkan suatu ekosistem yang seimbang dan memberikan peranan yang besar untuk menjaga keseimbangan terhadap kejadian yang merusak ekosistem dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Ekosistem yang tidak seimbang akan mempengaruhi pakan alami sehingga jika pakan alami tidak tersedia maka kelangsungan hidup larva organisme akan terancam.

  1. Tumbuhan Air

    B.1 Lokasi 1

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

25 % 

5 % 

2 % 

2. 

Padina 

10 % 

10 % 

2 % 

    B.2 Lokasi 2

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

80 % 

10 % 

5 % 

2. 

Halimeda 

20 % 

90 % 

30 % 

 

    B.3Lokasi 3

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

90 % 

100 % 

30 % 

2. 

Halimeda 

5 % 

0 % 

10 % 

 

    B.4 Lokasi 4

No. 

Jenis Tumbuhan 

Jumlah 

Ulangan 1 

Ulangan 2 

Ulangan 3 

1. 

Enhalus 

5 % 

0 % 

0 % 

 

Pada lokasi pengambilan sampel 1 merupakan lokasi yang jauh dari aktivitas, didapatkan tumbuhan air dengan variasi nilai keragaman 25%, 5% ,5 %. Hal ini berarti indeks keragamannya tergolong sedang, Pada perhitungan indeks keseragaman hasil yang didapat yaitu 0,866 artinya keseragamannya tinggi. Selanjutnya Indeks dominasi yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan angka 0,214. hal ini berarti indeks dominasinya tergolong rendah karena nilai tersebut lebih mendekati nol.

Sedangkan pada lokasi 2 dan 3 didapatkan indeks keseragaman yang tinggi dan indeks keanekaragaman yang rendah. Akan tetapi kondisi tersebut berbeda pada lokasi 4, dimana indeks keseragaman dan keanekaragaman yang rendah sekali. Hal tersebut kemungkinan erat kaitannya dengan banyaknya aktifitas di lokasi tersebut yang mengakibatkan tingkat pencemaran tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan air yang berada dilokasi tersebut.

  1. Kesimpulan

     

Perairan pada pulau tegal memiliki 24 jenis plankton, dari hasil analisis indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi menunjukkan bahwa perairan ini memiliki keanekaragaman yang rendah dan tidak ada spesies plankton yang mendominasi, sehingga perairan ini cenderung tidak stabil. Ketidakstabilan perairan erat kaitannya dengan ketersediaan pakan alami bagi larva organisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan dari Marine Biology : An Ecological Approach. Alih Bahasa : M. Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen dan M. Hutomo. Gramedia, Jakarta. 459 p

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p

Umar, C. 2003. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton dalam Kaitannya dengan Kandungan Unsur Hara (Nitrogen dan Fosfor) dari Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Waduk Ir. H. Juanda Jatiluhur Jawa Barat. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 94 p

Yuliana dan Tamrin. 2005. Fluktuasi dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku Utara. 11 p (belum dipublikasikan).

 


 

Iklan