Pengamatan/jam ke-

Jumlah

HE

(n/gr)

HR

(%)

Embrio

umbrella

Nauplii

1

23.30 wib

62

60

20

40

14,08

2

00.30 wib

37

41

26

52

25

3

01.30 wib

22

15

27

54

42

4

02.30

20

12

35

70

52,24

5

03.30 wib

11

10

35

70

62,5

6

04.30 wib

5

8

35

70

72,92

7

05.30 wib

5

6

37

74

78,72

8

06.30 wib

5

3

38

76

82,61

9

07.30 wib

5

2

48

96

87,27

10

08.30 wib

5

0

50

100

91

11

09.30 wib

0

4

50

100

92,6

12

10.30 wib

0

2

51

102

94,44

13

11.30 wib

0

2

53

106

96,36

14

12.30 wib

0

1

53

106

98,15

15

13.30 wib

0

1

64

128

98,46

16

14.30 wib

0

0

95

190

100

17

15.30 wib

0

0

119

238

100

18

16.30 wib

0

0

180

360

100

Hasil Pengamatan Praktikum Penetasan Artemia salina

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa cyste artemia mulai menetas pada jam ke-12 setelah penebaran cyste di media sebesar 14%. Selanjutnya mengalami peningkatan jumlah cyste artemia yang menetas hingga pada akhir pengamatan sebesar 100%.

Pembahasan

Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Menurut Gusrina (2008) menyatakan bahwa proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yaitu proses penyerapan air, pemecahan dinding cyste oleh embrio, embrio terlihat jelas masih diselimuti membran, menetas dimana nauplius berenang bebas yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam. Akan tetapi hal ini berbeda dengan hasil praktikum kami dimana cyste artemia mulai menetas sekitar 12 jam setelah penebaran cyste pada media.

Waktu penetasan cyste artemia dipengaruhi oleh faktor kualitas air, yaitu : kadar salinitas pada media penetasan, kepadatan cyste yang ditetaskan, intensitas cahaya dan aerasi.

Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29º C. Pada suhu dibawah 25º C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33º C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar salinitas optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.

Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.

Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukan dalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambang dan berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetap dimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum tutup dibuka atau disipon, ujing selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.


Iklan