Respon Organisme Akuatik Terhadap Variabel Lingkungan

ABSTRAK

 

Oleh

Neni Putriani

 Variabel lingkungan suatu perairan selalu berubah-ubah, baik harian, musiman maupun tahunan. Oleh karena itu organisme akuatik harus mampu beradaptasi sebagai suatu respon aktif terhadap perubahan-perubahan variabel lingkungan. Adapun variabel lingkungan fisika dan kimia yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan organisme akuatik adalah suhu, salinitas, kekeruhan, tekanan, cahaya, oksigen, pH, NH, CO serta beberapa macam logam berat (Hg, Pb, Cu dan Cd). Untuk mengetahui respon dan kisaran toleransi suatu organisme akuatik terhadap perubahan variabel lingkungan (pH, deterjen, suhu) dapat dilakukan dengan cara membuat perlakuan sesuai dengan jenis variabel yang diinginkan. Beberapa perlakuan tersebut membuktikan bahwa ikan tidak mampu bertahan hidup pada suhu dibawah 100C, pada larutan deterjen, dan pada pH yang terlalu asam atau basa.

 

Kata kunci :variabel lingkungan, adaptasi ikan, organisme akuatik

                      

 I.   PENDAHULUAN

 

1.1  Latar belakang

Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu organisme akuatik harus melakukan adaptasi terhadap perubahan variabel lingkungan baik yang terjadi  harian, bulanan dan tahunan.

Proses adaptasi tersebut merupakan respon aktif dari suatu organisme akuatik terhadap variabel lingkungan.

Respon yang terjadi pada organisme sehubungan dengan perubahan lingkungan tersebut dapat berupa

1. Respon Biokimia

Aktivitas enzim, biosintesa protein, lemak, kondisi membran sel, dan kondisi ion cairan

2. Respon Struktur sel/organ /tubuh :

Jumlah sel khlor pada insang dan ketebalan lapisan mukosa pada esophagus.

3. Respon fisiologis :

Konsumsi oksigen, aktivitas makan, keseimbangan osmotik dan ion, pencernaan, ekskresi dan asimilasi, serta sekresi mucus

4. Respon tingkah laku

Aktivitas renang dan pemijahan, kebiasaan makan dan cara makan.

Variabel lingkungan fisika dan kimia yang penting diperhatikan dan sangat berpengaruh terhadap lingkungan organism akuatik adalah suhu, salinitas, kekeruhan, tekanan, cahaya, oksigen, pH, NH, CO serta beberapa macam logam berat (Hg, Pb, Cu dan Cd)

Sehubungan dengan adanya perubahan variabel lingkungan serta kemampuan adaptasi dari organisme akuatik terhadap lingkungannya, maka perlu dilakukan praktikum ini untuk mendapatkan informasi tentang kemampuan adaptasi dari suatu organisme akuatik terhadap lingkungannya.

1.2  Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini,  antara lain:

  1. Mengetahui respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan (pH, deterjen, suhu)
  2. Mengetahui kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variabel lingkungan

 II.    TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Klasifikasi Ikan Mas, yaitu:

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Actinopterygii

Ordo                : Cypriniformes

Famili              : Cyprinida

Genus              :Cyprinus

Spesies            :Cyprinus carpio

Ikan mas merupakan ikan yang sudah umum di pelihara menurut ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO.

Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.

Sedangkan Djoko Suseno (2000) berpendapat bahwa berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan mas yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.

Secara morfologis, ikan mas mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.

2.2 Suhu

Perubahan suhu secara fluktuatif akan menyebabkan pengaruh terhadap fisiologi hewan air. Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotherm yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi suhu lingkungan (air). Ikan di daerah tropis membutuhkan suhu air relatif tinggi dibandingkan ikan subtropis. Ikan tropis membutuhkan suhu lebih dari 260 C agar metabolisme tubuh ikan berjalan dengan normal yang ditandai dengan nafsu makan ikan yang tinggi. Suhu air yang optimum untuk pertumbuhan ikan atau udang antara 280 C sampai 300 C. Suhu air sangat dipengaruhi oleh alam (cuaca) sehingga sulit untuk di kontrol. Kenaikan suhu menyebabkan laju konsumsi dan metabolisme meningkat.

Penurunan suhu menyebabkan penghambatan proses fisiologi bahkan dapat menyebabkan kematian. Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan.  Pada proses pencernaan yang tak sempurna akan dihasilkan banyak feses, sehingga banyak energi yang terbuang.  Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi.  Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu makannya meningkat.  Jika konsumsi pakan tinggi, nutien yang masuk kedalam tubuh ikan juga tinggi, dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk pertumbuhan.

Suhu media juga berpengaruh terhadap aktifitas enzim yang terlibat proses katabolisme dan anabolisme.  Enzim metabolisme berpengaruh terhadap proses katabolisme (menghasilkan energi) dan anabolisme (sintesa nutrien menjadi senyawa baru yang dibutuhkan tubuh).  Jika aktifitas enzim metabolisme meningkat maka laju proses metabolisme akan semakin cepat dan kadar metabolit dalam darah semakin tinggi.  Tingginya kadar metabolit dalam darah menyebabkan ikan cepat lapar dan memiliki nafsu makan tinggi, sehingga tingkat konsumsi pakan meningkat.  Konsumsi pakan yang tinggi akan meningkatkan jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh.  Energi ini akan digunakan untuk proses-proses maintenance dan selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan.

Suhu media yang optimum akan mendorong enzim-enzim pencernaan dan metabolisme untuk bekerja secara efektif.  Konsumsi pakan yang tinggi yang disertai dengan proses pencernaan dan metabolisme yang efektif, akan menghasilkan energi yang optimal untuk pertumbuhan.

Proses metabolisme ikan umumnya meningkat jika suhu naik hingga dibawah batas yang mematikan.  Berdasarkan hukum van’t Hoff, kenaikan suhu sebesar 10°C akan menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan pada kondisi normal.   Kebutuhan protein pada ikan untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum sangat dipengaruhi oleh suhu. Contoh pada suhu 20oC pada ikan Channel Catfish (Ictalurus punctatus) memperlihatkan pertumbuhan optimum dengan kadar protein 35 %, sedangkan pada suhu 25oC membutuhkan protein 40%. (Wahyu Purwakusuma, 2002)

Secara umum ikan telah beradaptasi untuk hidup pada kisaran suhu tertentu. Kisaran ini bervariasi dari satu spesies ke spesies lainnya. Meskipun beberapa spesies dapat mentolerir perbedaan lintang tertentu, sehingga, misalnya, memungkinkan ikan-ikan daerah tropis yang memiliki persyaratan hidup berbeda digabungkan dalam satu akuarium, akan tetapi pengawasan ekstra hati-hati tetap diperlukan. Suhu rendah dibawah normal dapat menyebabkan ikan mengalami lethargi, kehilangan nafsu makan, dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Penurunan suhu secara perlahan, seperti terjadi apabila heater tidak berfungsi, jarang menimbulkan shock, meskipun demikian temperatur hendaknya dikembalikan ke kondisi semula secara perlahan-lahan dalam waktu satu jam atau lebih.

Dalam kasus temperatur terlalu panas, seperti akibat termostat yang

tidak berfungsi dengan baik, maka intentsitas aerasi hendaknya ditingkatkan untuk mengkompensasi kadar oksigen terlarut yang rendah, dan biarkan temperatur akuarium dingin secara alami. Apabila suhu meningkat sampai melebihi 32°C, dan apabila ikan masih bertahan hidup, maka penggantian air sebanyak 20% dengan air dingin bisa dilakukan. Pengembalian air hendaknya dilakuakan secara perlahan dengan cera disiphon plus peningkatan aerasi. (Musida, 2008)

2.3 Asam dan Basa

Perairan yang kadar asamnya tinggi (pH rendah) dapt menggangu proses fisiologi pada insang. (Marsandre Jatilaksono, 2007)

pH merupakan suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H.

2.4 Deterjen

Dapat menurunkan pertumbuhan serta mengurangi kelangsungan hidup ikan dan daya tarik terhadap pakan. Menurut Olsen and Hoglund surfaktan dalam deterjen dapat mempengaruhi daya gerak ikan.

2.5 Oksigen (DO)

Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya (utamanya menjadi oksida). Pada Temperatur dan tekanan standar, dua atom unsur ini berikatan menjadi dioksigen, yaitu senyawa gas diatomik dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau.

Menurut Romimuhtarto (1991) bahwa Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi DO menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan karena oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak

Menurut Yushinta Fujaya (2002) dalam Fisiologi Ikan menyatakan bahwa kelarutan oksigen di dalam air menurun dengan meningkatnya suhu dan mencapai nol pada air mendidih.

Rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa sejumlah besar air ke permukaan alat respirasinya untuk mengambil O2, menurunkan proporsi tekanan partial dari total O2 yang digerakkan dalam air dan mencegah penggunaan permukaan alat pernapasan yang sangat besar karena tekait dengan problema osmoregulasi yang harus di atur (Yushinta Fujaya, 2002).


III.             METODOLOGI

3.1 Metode Kerja

 Adapun metode kerja dalam praktikum ini, yaitu:

3.1.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 21 April 2010. Bertempat di Laboratorium jurusan budidaya perairan, gedung biotek lantai 3 fakultas pertanian pada pukul 13.30– 17.00 Wib.

3.1.2 Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum, yaitu: akuarium 5 buah, aerator, termometer, timbangan digital, gayung, ember, heater (alat pemanas air), lap, pengaduk, tissue, stopwatch, terminal listrik, DO meter, toples plastik dan plastik wrap.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah benih ikan mas, benih ikan lele, es batu, air panas, aquades, kertas lakmus, HCL dan NaOH, dan surfaktan deterjen.

3.2 Prosedur kerja

 a.      Adaptasi Organisme akuatik  terhadap suhu

 Adapun prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:

  1. Disiapkan 5 buah akuarium
  2. Diisikan dengan air sebanyak 10 liter

* Akuarium 1 berfungsi sebagai kontrol,

* Akuarium 2, 3 dan 4 untuk perlakuan yang berbeda (panas:                             400C; dingin: 200C; 100C)

* Akuarium 5 untuk perlakuan gradual

3. Ditimbang 5 ekor ikan mas yang akan digunakan untuk percobaan               menggunakan timbangan digital.
4. Dihitung berat rata-rata ikan mas sebelum dilakukan percobaan

5. Disiapkan media air berupa air es dan air panas untuk masing-                       masing perlakuan.

6. Disiapkan heater dan aerator (untuk meningkatkan suhu dan                         mensuplai oksigen)

7. Dimasukan benih ikan mas dan lele ke dalam akuarium yang telah               disediakan secara bersama-sama.

8. Diupayakan suhu dalam akuarium tetap stabil sesuai dengan                          perlakuan

9. Diamati prilakunya setiap 5 menit selama 30 menit dan di catat                    jumlah ikan mas dan lele yang mati selama percobaan

10. Timbang bobot akhir dari ikan mas dan lele tiap akuarium setelah                percobaan.

b.      Adaptasi Organisme akuatik terhadap pH

 Adapun prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:

  1. Disiapkan 5 buah akuarium
  2. Diisikan dengan air sebanyak 10 liter dengan berbagai tingkat pH yang berbeda

* Akuarium 1 berfungsi sebagai kontrol,

* Akuarium 2, 3 dan 4 untuk perlakuan yang berbeda (Asam:                              ditambahkan 40, 55 dan 80 tetes NaOH)

* Akuarium 5 untuk perlakuan gradual

  1. Ditimbang 5 ekor ikan mas yang akan digunakan untuk percobaan menggunakan timbangan digital.
  2. Dihitung berat rata-rata ikan mas sebelum dilakukan percobaan
  3. Disiapkan HCL, NaOH dan aerator untuk setiap perlakuan.
  4. Dimasukan benih ikan mas dan lele ke dalam akuarium yang telah disediakan secara bersama-sama.
  5. Diamati prilakunya setiap 5 menit selama 30 menit dan di catat jumlah ikan mas dan lele yang mati selama percobaan
  6. Timbang bobot akhir dari ikan mas dan lele tiap akuarium setelah percobaan.

 c.       Adaptasi Organisme akuatik terhadap Surfaktan deterjen

 Adapun prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:

  1. Disiapkan 5 buah akuarium
  2. Diisikan dengan air sebanyak 10 liter dengan pemberian surfaktan deterjen yang berbeda

*Akuarium 1 berfungsi sebagai kontrol,

* Akuarium 2, 3 dan 4 untuk perlakuan yang berbeda (tambahkan                    surfaktan deterjen sebanyak 5 gr, 10 gr dan 15 gr)

* Akuarium 5 untuk perlakuan gradual

  1. Ditimbang 5 ekor ikan mas yang akan digunakan untuk percobaan menggunakan timbangan digital.
  2. Dihitung berat rata-rata ikan mas sebelum dilakukan percobaan
  3. Disiapkan surfaktan deterjen yang sudah dilarutkan dengan 1 liter air untuk masing-masing perlakuan.
  4. Disiapkan aerator pada masing-masing akuarium
  5. Dimasukan benih ikan mas dan lele ke dalam akuarium yang telah disediakan secara bersama-sama.
  6. Diamati prilakunya setiap 5 menit selama 30 menit dan di catat jumlah ikan mas dan lele yang mati selama percobaan
  7. Timbang bobot akhir dari ikan mas dan lele tiap akuarium setelah percobaan.

d.      Adaptasi Organisme akuatik terhadap perubahan konsentrasi oksigen

 Adapun prosedur kerja yang dilakukan, yaitu:

  1. Disiapkan 4 buah akuarium
  2. Disiapkan ikan uji yaitu benih ikan mas dan lele
  3. Timbang berat benih masing-masing ikan uji tersebut (dalam satuan gram)
  4. Diukur DO awal dalam toples
  5. Masukkan ikan kedalam stoples berisi air yang sudah dihitung DO awalnya,
  6. Tutup rapat masing-masing toples tersebut dengan menggunakan plastik wrap (hindari timbulnya gelembung udara pada saat stoples ditutup dengan plastik wrap)
  7. Diamati prilakunya setiap 5 menit selama 30 menit dan di catat jumlah ikan mas dan lele yang mati selama percobaan
  8. Setelah 30 menit buka plastic wrap tersebut kemudian ukur kadar oksigen yang telah dikonsumsi oleh ikan dengan menggunakan alat DO meter digital.
  9. Timbang bobot akhir dari ikan mas dan lele tiap perlakuan setelah percobaan.

VI.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 a.      Adaptasi Organisme akuatik terhadap suhu

 Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Adaptasi Organisme akuatik terhadap suhu

Menit ke-

Kondisi/Tingkah laku Ikan

Kontrol

10oC

20oC

40oC

Gradual

5

  • Ikan berenang didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 95 kali/menit

  • Ikan cenderung pasif didasar pada menit 1.50
  • 2 ikan pasif didasar (menit ke 4)
  • Ikan berenang menyebar keseluruh kolom air
  • Cenderung pasif di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 52 kali/menit
  • Ikan aktif dan tampak agresif
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 108 kali/menit
Suhu 10 oC

  • Ikan terlihat terganggu keseimbangan tubuhnya
  • Ikan pingsan
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 13 kali/menit
10’
  • Ikan berenang aktif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 94 kali/menit
  • Produksi lendir mulai banyak
  • Mulai mengeluarkan feses
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 70 kali/menit
  • Cenderung pasif dan bergerombol di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 51 kali/menit
  • Ikan cenderung bergerak normal
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 118 kali/meni
Suhu 20o C

  • Ikan terlihat lincah/aktif berenang
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 51 kali/menit
15
  • Ikan berenang aktif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 90 kali/menit
  • Produksi lendir semakin banyak
  • Mengeluarkan feses
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 80 kali/menit
  • Masih cenderung pasif dan bergerombol di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 35 kali/menit
  • Ikan kembali tampak agresif
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 110 kali/menit
Suhu 30o C

  • Ikan terlihat lebih lincah/aktif berenang
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 53 kali/menit
20’
  • Ikan berenang aktif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 92 kali/menit

 

  • Produksi lendir mulai berkurang
  • Ikan mati pada menit ke-17
  • Masih cenderung pasif dan bergerombol di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 25 kali/menit
  • Ikan masih tampak agresif
  • Sebagian ikan cenderung berada dipermukaan
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 112 kali/menit
 
25
  • Ikan berenang aktif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 96 kali/menit

 

 

 

  • Masih cenderung pasif dan bergerombol di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 21 kali/menit
  • Ikan mulai terlihat megap-megap
  • Keseimbangan tubuh mulai terganggu
  • Berenang tidak beraturan
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 132 kali/menit
 
30’
  • Ikan berenang aktif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 82 kali/menit

 

 

 

  • Masih cenderung pasif dan bergerombol di dasar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 16 kali/menit
  • Ikan masih  terlihat megap-megap
  • Keseimbangan tubuh terganggu
  • Berenang tidak beraturan
  • 2 ikan berenang di permukaan
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 89 kali/menit
 

Pada percobaan suhu, dilakukan 5 perlakuan. Perlakuan 1 yaitu kontrol. Pada perlakuan kontrol ikan dalam keadaan normal. Bobot rata-rata ikan sebelum dimasukkan ke dalam akuarium sama dengan bobot rata-rata sesudah dimasukkan ke dalam akuarium.

Pada perlakuan 2 yaitu dengan perlakuan suhu 10oC. Pada suhu ini, ikan mengalami perubahan suhu dari lingkungan dengan suhu normal ke lingkungan dengan suhu 10oC drastis. Pada saat ikan dimasukkan ke dalam akuarium bersuhu 10oC, ikan-ikan berenang ke arah yang tidak tentu dan berenang naik turun. Beberapa saat ikan menjadi lemas. Dalam waktu yang cukup lama ikan masih dapat bertahan dengan berkumpul di dasar. Hal ini membuktikan bahwa perubahan suhu mempengaruhi kerja enzim dan metabolisme tubuh ikan.

Perlakuan 3 yaitu dengan perlakuan suhu 20oC. Pada suhu ini ikan mengalami perununan suhu yang menyebabkan ikan menjadi lemas dan berenang tidak teratur. Produksi lendir meningkat.

Perlakuan 2 dan 3 merupakan penurunan suhu yang menyebabkan penurunan nafsu makan ikan dan cepatnya ikan terserang penyakit bahkan dapat menyebabkan kematian. Perlakuan 4 yaitu perlakuan suhu 40oC. Pada suhu 40oC, ikan mengalami peningkatan suhu yang mengakibatkan ikan berenang dengan lemah. Dalam menit yang cukup singkat ikan tidak dapat bertahan. Semua ikan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan suhu lingkungannya. Bobot ikan pun turun dari sebelum dimasukkan ke dalam akuarium sampai setelah dimasukkan ke dalam akuarium.

Peningkatan suhu dapat menyebabkan stress permanen dan kerusakan insang pada ikan. Akan tetapi peningkatan suhu jug dapat mempercepat proses metabolisme.

Pada perlakuan 5 yaitu perlakuan gradual, ikan mengalami perubahan berbagai suhu. Pada suhu 10oC dan 20oC, ikan tampak berenang tidak teratur dan berenang ke atas dan ke bawah. Ikan juga terlihat lemas. Sedangkan pada suhu 40oC, ikan menjadi lemas ketika dimasukkan ke dalam akuarium dan mati setelah beberapa menit.

Berdasarkan hasil praktikum ini di ketahui bahwa suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim pencernaan. Pada proses pencernaan yang tidak sempurna akan dihasilkan banyak feses, sehingga banyak energi yang terbuang. Tetapi jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi. Tingkat pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu makannya meningkat. Hal tersebut tampak pada ikan uji yang sering terlihat mencari makanan di dinding akuarium.

b.      Adaptasi Organisme akuatik terhadap pH

Pada percobaan pH dibagi menjadi 2 yaitu basa dan asam. Pada perlakuan basa menggunakan KOH 13 tetes/pH air 6, dimana kondisi ikan uji terlihat normal, hanya sesekali menunjukan tingkah laku yang tidak normal seperti naik turun ke permukaan dan dasar dan akhirnya kondisi ikan normal. Hal tersebut merupakan respon aktifnya dalam rangka melakukan adaptasi

Bobot rata-rata ikan sebelum dan sesudah dimasukkan ke dalam akuarium mengalami penurunan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan adanya proses adaptasi yang dilakukan oleh ikan uji melalui respon mengeluarkan banyak lendir dan cairan didalam tubuhnya sehingga banyak membutuhkan energi. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan negative yaitu penurunan berat badan.

Sedangkan pada perlakuan basa 2 menggunakan KOH 26 tetes pada menit ke 20 ikan yang mati berjumlah 4 dan pada menit ke 30 ikan yang mati 1 jadi jumlah semua ikan yang mati adalah 5. Hal ini menunjukkan ikan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki pH basa tinggi. Ikan mengeluarkan lendir sebagai reaksi kerja enzim eksresinya. Bobot tubuh sebelum dimasukkan ke akuarium lebih kecil hampir 2 kali lipat dari ikan yang sudah dimasukkan ke dalam akuarium. Peningkatan pH dapat mempengaruhi proses fisiologis pada insang. Perlakuan gradual, ikan mati pada menit ke 50 dan 60. Ikan yang mati juga mengeluarkan lendir. Bobotnya juga menjadi hampir 2 kali lipat bobot awal sesudah dimasukkan ke dalam akuarium.

Perlakuan asam 1 dengan menggunakan HCl 13 tetes membuat ikan-ikan menjadi berenang di permukaan. Tetapi tidak ada ikan yang mati. Sedangkan pada perlakuan asam 2 dengan menggunakan HCl 26 tetes membuat ikan menjadi lemas. Pada perlakuan gradual, ikan terlihat berenang berkelompok dan megap-megap.

c.       Adaptasi Organisme akuatik terhadap surfaktan deterjen

Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Adaptasi Organisme akuatik terhadap surfaktan deterjen

Menit ke-

Kondisi/Tingkah laku Ikan

KOH (13tts)

KOH (26 tts)

HCL (13 tts)

HCL (26 tts)

Gradual

5

  • Ikan berenang didasar
  • Ikan terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 45 kali/menit

  • Ikan berenang didasar
  • Ikan terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 47 kali/menit
  • Cenderung pasif di dasar
  • Berputar-putar di akuarium
    • Ikan terlihat megap-megap
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 100 kali/menit
    • Ikan berputar-putar
    • Bergerak sangat cepat
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 73 kali/menit
Deterjen 1,5gr

  • Ikan terlihat berenang aktif
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 98 kali/menit
10’
  • Ikan berenang didasar
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 43 kali/menit
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 37 kali/menit
  • Masih cenderung pasif di dasar
  • Berputar-putar di akuarium
    • Ikan terlihat megap-megap
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 45 kali/menit
      • Ikan terlihat pasif didasar
      • Ikan terlihat megap-megap
      • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 70 kali/menit
Deterjen 3,3gr

  • Ikan mengeluarkan darah di daerah operculum
  • Berenang berputar-putar
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 73 kali/menit
15
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 36 kali/menit
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 36 kali/menit
  • Masih cenderung pasif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 44 kali/menit
    • Ikan terlihat pasif didasar
    • Ikan terlihat megap-megap
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 42 kali/menit
Deterjen 5gr

  • 2 ikan terlihat kembali mengeluarkan darah dari daerah operculum
  • 2 Ikan mati
  • 1 ikan pingsan
  • Rata-rata Intensitas buka tutup operculum sebanyak 14 kali/menit
20’
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 31 kali/menit

 

  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 33 kali/menit
  • Makin terlihat pasif
  • Terlihat lemah
    • Ikan terlihat megap-megap
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 40
      • Ikan terlihat pasif didasar
      • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 37 kali/menit
   
25
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 27 kali/menit
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 31 kali/menit
 
  • Berenang sangat lambat
  • Mulai berenang di kolom air
    • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 38 kali/menit
  • Ikan masih terihat pasif didasar
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 20 kali/menit
 
30’
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 22 kali/menit
  • Ikan masih terlihat megap-megap
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 22 kali/menit
  • Ikan terlihat kembali aktif berenang
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 60 kali/menit
  • Ikan mulai terlihat gelisah
  • Keseimbangan tubuh terganggu
  • Intensitas buka tutup operculum sebanyak 8 kali/menit
 

Dalam percobaan deterjen, dilakukan 5 perlakuan yaitu perlakuan 1 adalah kontrol. Pada perlakuan kontrol, ikan tampak normal. Bobot sebelum dan sesudah dimasukkan ke dalam akuarium adalah sama. Hai ini dikarenakan lingkungan yang normal dan belum terkontaminasi. Perlakuan 2 yaitu penambahan deterjen 1,3 gr yang terjadi adalah pada menit ke 10 semua ikan mati dan mengeluarkan lendir. Bobot ikan meningkat dari sebelum ikan dimasukkan ke dalam akuarium. Sedangkan pada perlakuan 3 yaitu penambahan deterjen 3,3 gr, semua ikan juga mati dalam menit ke 10. Ikan tampak berlendir dan insang berdarah. Pada perlakuan 4 yaitu penambahan deterjen 5 gr yang terlihat adalah ikan yang berlendir dan insang yang berdarah. Perlakuan 5 yaitu gradual. Pada menit ke 10 ikan yang mati berjumlah 4 dan pada menit ke 20 ikan yang mati berjumlah 1. Tanda-tanda ikan yaitu ikan tampak berlendir.

Pengaruh deterjen adalah dapat memperlambat pertumbuhan dan membatasi ruang gerak ikan. Selain itu juga dampak yang ditimbulkan adalah pendarahan pada organ dalam ikan salah satu nya yaitu bagian insang. Hal tersebut kemungkinan disebabkan ketidakmampuan insang dalam mentolerir kandungan deterjen yang terhisap di insang, sehingga terjadi penggumpalan dan akhirnya pecah menimbulkan pendarahan. Akibat terganggunya salah satu fungsi organ tubuh.

C.       Adaptasi Organisme akuatik terhadap perubahan konsentrasi oksigen

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang sudah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :

Ikan lele

  • Kebutuhan oksigen selama 30 menit

Kontrol

X = DO awal – DO akhir

=  4,51 – 3,57

=  0,94 mg/l

Perlakuan

X = DO awal – DO akhir

=  4,93 – 3,98

=  0,95 mg/l

  • Kebutuhan oksigen gram per menit

Kontrol

X’ = xg x 30

= 4 x 30

= 120 gr/menit

Perlakuan

X’ = xg x 30

= 5x 30

= 150 gr/menit

Ikan Mas

  • Kebutuhan oksigen selama 30 menit

Kontrol

X = DO awal – DO akhir

=  4,99 – 3,76

=  1,23 mg/l

Perlakuan

X = DO awal – DO akhir

=  4,47 – 3,61

=  0,86 mg/l

. Kebutuhan oksigen gram per menit

Kontrol

X’ = xg x 30

= 2 x 30

= 60 gr/menit

Perlakuan

X’ = xg x 30

= 3 x 30

= 90 gr/menit

Kebutuhan oksigen bagi ikan mempunyai dua aspek yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang bergantung pada keadaan metabolisme ikan.

Perbedaan kebutuhan oksigen dalam suatu lingkungan bagi ikan dari spesies tertentu disebabkan oleh adanya perbedaan struktur molekul sel darah ikan, yang mempengaruhi hubungan antara tekanan parsial oksigen dalam air dan derajat kejenuhan oksigen dalam sel darah.

Ikan memerlukan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi, atau sebaliknya.

Setelah praktikan melakukan pengamatan dan perhitungan didapat bahwa hasil yang diperoleh kebutuhan oksigen ikan mas selama 30 menit adalah 0,86 mg/l sedangkan kebutuhan oksigen pada ikan lele selama 30 menit sebesar 0,95mg/l dan kebutuhan oksigen ikan mas gram per menit sebesar 90 gr/menit sedangkan pada ikan lele 150 gr/menit

Berdasarkan hasil penghitungan tersebut menunjukan bahwa kebutuhan oksigen ikan lele lebih besar dibandingkan ikan mas.

V. Penutup

 

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Respon organisme akuatik terhadap variabel lingkungan berupa proses adaptasi
  2. Kisaran toleransi organisme akuatik terhadap variabel lingkungan bervariasi sesuai dengan jenis organisme. Dimana
  3. Suhu optimal Ikan berkisar antara 25-300C, dan tidak dapat hidup dibawah suhu 100 C, pH yang tidak terlalu asam dan basa dan kandungan deterjen yang tidak lebih dari 0,1 gr/l serta DO yang tidak kurang dari 2 mg/l  bila itu terjadi akan menyebabkan terganggunya proses fisiologi dan menimbulkan kematian

5.2 Saran

Adapun saran dalam pelaksanaan praktikum ini, sbb:

  1. Diperlukannya kelengkapan sarana dan prasarana praktikum sehingga kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar
  2. Diperlukannya kerjasama yang kondusif antara rekan dalam satu kelompok maupun dengan dosen sehingga pelaksanaan praktikum berjalan dengan baik.
  3. Diperlukannya ketelitian dan keseriusan dalam melaksanakan praktikum.
  4. Berdo’a sebelum dan sesudah melakukan kegiatan merupakan kewajiban.

 DAFTAR PUSTAKA

 Affandi, R., dan Tang, U. 2002. Fisiologi Hewan Air. University Riau Press. Riau

 Supono. 2009. Penuntun Praktikum Manajemen Kualitas Air. Universitas lampung. Lampung

Musida, 2008. Faktor yang mempengaruhi adaptasi hewan air terhadap lingkungannya. http://www.musida.web.id diakses tanggal 18 April 2010 pukul 19.45

Wahyu Purwakusuma. 2002. Temperatur. http://www.O-fish.com diakses tanggal 18 Mei 2009 pukul 09.25

Marsandre Jatilaksono. 2007. Osmoregulasi , ikan uji : ikan nila dan ikan mas. http://jlcome.blogspot.com diakses tanggal 18 April 2010 pukul 20.35

http://akuakulturunhas.blogspot.com/2009/03/air-sebagai-lingkungan-hidup.html

http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0074%20Bio%202-8a.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/ikanmas

Iklan